Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Allen Stevano: Dari Chef Jadi Manajer Hotel Four Star by Trans Hotel

Kini ia menjadi manajer hotel di Hotel Four Star by Trans Hotel, salah satu unit bussines Trans Hotel dan Resort Grup yang bergerak di bintang 4

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Four Star by Trans Hotel
Manajer Hotel Four Star by Trans Hotel Allen Stevano. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Allen Stevano (40), Selasa (1/9/2020) sekitar pukul 15.10 Wita, dengan menggunakan kemeja putih menemui wartawan Tribun Bali di Hotel Four Star by Trans Hotel, Jalan Puputan Renon Nomor 200 Renon Denpasar, Bali.

Kini ia juga menjadi manajer hotel di Hotel Four Star by Trans Hotel, salah satu unit bussines Trans Hotel dan Resort Grup yang bergerak di bintang 4, dan pertama ada di Indonesia.

Untuk menjadi seorang manajer seperti sekarang ini, dirinya telah melewati waktu yang panjang.

Ia telah bergelut dalam dunia perhotelan hampir 20 tahun.

Lelaki asal Sumatera ini, mengawalinya dengan mengambil jurusan tata boga di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung dan telah diterima kerja sebelum lulus sebagai chef.

Dipilihnya jurusan tata boga, alasannya cukup sederhana karena saat itu banyak chef yang bisa ke luar negeri.

Setelah lulus lalu bekerja di Jakarta, ia pindah ke London, Inggris, yang kemudian dilanjutkannya di New Zealand.

“Tahun 2011 saya kembali ke Indonesia dan tinggal sebentar di Bali. Kemudian pindah lagi ke Macao, ke Bali lagi terus lanjut pergi ke China selama 2 tahun, dari China saya balik lagi ke Bali akhir tahun 2014 hingga sekarang kerja di grup The Trans Resort Bali,” katanya.

Setelah lima tahun bekerja di Four Star by Trans Hotel, dirinya pun dipromosikan sebagai manajer hotel dan resmi menyandang jabatan ini sejak November 2019.

Jauh sebelum menjadi manajer hotel, tahun 2006 dirinya sudah menduduki posisi yang gemilang, yakni Executive Sous chef di New Zealand.

“Saat itu saya berpikir, kembali dari luar negeri saya ingin grooming chef muda khususnya di Bali. Kepada tim saya di sini juga saya tekankan agar belajar disiplin mencintai pekerjaan atau ngayah, harus melayani dari hati. Datang lebih awal, pulang lebih lambat,” katanya.

Karena tidak ada yang akan sia sia, sesuatu yang dilakukan dengan baik, niatnya baik akan berbuah baik pula.

Dirinya pun punya prinsip hidup, semasih muda berani mencoba, berani gagal, agar nantinya setelah berusia di atas 30 tahun sudah siap dan 40 sudah mapan.

“Seperti kata pepatah, habiskan jatah gagal saat muda, saat masih berusia 20 sampai 30 tahun, karena gagal itu biasa, tapi tetap gagal yang terukur, yang artinya belajar dari kesalahan dan menjadikannya itu proses pembelajaran untuk lebih baik lagi. Kalau sudah habis jatah gagalnya, saat umur 30 tahun diharapkan kita sudah menjadi pribadi yang lebih siap dan sigap," jelasnya.

Walaupun demikian, dirinya tak pernah menganggap ketidak berhasilan sebagai kegagalan, dengan catatan kita selalu bisa bangkit!

Allen Stevano pun sangat menyukai tantangan dan suka belajar hal-hal baru.

Bahkan ketika di New Zealand, ia bekerja pada tiga tempat sekaligus.

Bekerja di Hotel Hilton Auckland, di salah satu restoran fine dining terbaik “Meredith” di Auckland, lalu part time chef di Flight Catering, perusahaan yang menyediakan makanan untuk airlines, hanya karena Allen Stevano penasaran ingin mengetahui sistem operasional di sana.

Sehingga hampir setahun praktis ia tidak memiliki jatah libur.

Saat bisa santai, kadang jam 4 pagi di musim dingin, Allen Stevano harus berangkat bekerja.

"Kalau diingat-ingat sih, kok bisa ya dulu begitu, tetapi karena didorong rasa ingin tahu yang besar semua terasa ringan saat itu. Kalau ingin belajar sesuatu jangan tunggu datang ke kita, kita bisa belajar sendiri dan jangan ditunda! Bahkan di sini (di hotel) saya selalu mengizinkan dan menganjurkan staf saya untuk belajar dan mau mencoba hal lain di luar tugas dan tanggung jawabnya. Terkadang di tempat lain mungkin ini tidak lazim, tapi menurut Allen Stevano kita sekarang harus multi skill dan harus di atas rata rata, kalau ibarat perang, sudah siap berperang di manapun,” tutur ayah dengan tiga anak ini.

Walaupun dirinya bekerja di bidang perhotelan, namun dirinya juga belajar banyak hal mulai dari properti, e-commerce, kesehatan dan kecantikan, juga tentang impor maupun trading.

Selama di Bali juga banyak mengalami perjalanan hidup yang hanya di Bali bisa merasakan hal-hal seperti ini.

“Saya berteman dengan orang-orang tua di Bali, ngobrol dengan orang yang sudah sepuh banyak sharing kebajikan kebijaksanaan dengan pedanda, mangku, untuk mencari keseimbangan dalam hidup. Untuk mengisi waktu saya suka membaca, melihat kebudayaan dan travelling,” kata lelaki yang mengaku memiliki hobi mencari makna kehidupan dari hal-hal kecil dalam kehidupan.

Walaupun kini telah menjadi manajer hotel, namun dirinya tetap rendah hati.

Ia berpandangan kesuksesan sifatnya titipan dan semasa bisa dan mampu harus bisa berkontribusi bagi alam dan sesama.

Sebagai orang yang berpengalaman lama dalam dunia perhotelan, ia berharap kepada generasi muda untuk mengenal “passion” masing-masing sejak dini.

Dengan cara mencoba banyak hal saat usia masih remaja.

Agar nantinya dengan “passion” itu bisa menjadi penyemangat untuk bisa melakukan hal hal luar biasa tanpa dibayar, tanpa kenal waktu dan tanpa kenal Batasan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved