Breaking News:

Pembangunan Kantor MDA Buleleng Dimulai, Target Selesai Desember dengan Anggaran Rp 3 Miliar Lebih

Koster mengatakan, proses pembangunan gedung perkantoran MDA Buleleng ini ditargetkan selesai pada Desember mendatang.

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Gubernur Bali bersama Bendesa Agung Majelis Desa Adat Bali dan Bupati Buleleng saat melakukan kegiatan peletakan batu pertama pembangunan gedung MDA Buleleng, Kamis (10/9/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA – Kabupaten Buleleng menjadi daerah ketujuh dibangunnya gedung perkantoran Majelis Desa Adat (MDA) oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.

Kantor berlantai dua itu dibangun di Jalan Ratna, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng.

Pembangunan diawali dengan acara peletakkan batu pertama ,yang dilakukan oleh Koster bersama Bendesa Agung Majelis Desa Adat Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, serta Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, pada Kamis (10/9/2020).

Ditemui seusai melakukan kegiatan peletakan batu pertama, Koster mengatakan, proses pembangunan gedung perkantoran MDA Buleleng ini ditargetkan selesai pada Desember mendatang.

Jadi Gong Koalisi Jembrana Maju, Ini Alasan PKB Putuskan Usung Tamba-Ipat di Pilkada Serentak 2020

Desa Wisata Bakas Terus Berbenah, Upaya Maksimalkan Kunjungan Wisatawan Lokal saat Umanis Galungan

Sampah Organik di Denpasar Diolah Jadi Pupuk Kompos, Hasilkan 15 Ton Kompos per Bulan

Dimana anggaran yang digunakan berasal dari CSR BUMN, sebesar Rp 3 Miliar lebih.

“Kontraktor dan desainnya semua sama dengan gedung-gedung MDA di kabupaten lain. Berlantai dua, standarnya semua sama,” ucap Koster.

Gedung perkantoran MDA ini sebut Koster nantinya difungsikan sebagai tempat untuk melakukan pembinaan, pengawasan, dan pemberdayaan kepada seluruh desa adat yang ada di Buleleng.

“Selama ini saya lihat, Bali kurang serius ngurusin desa adat. Sekarang desa adat harus di tata dengan baik, karena desa adat menjadi pilar utama dalam menjaga warisan leluhur kita, yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal. Ini adalah modal utama yang membedakan Bali dengan daerah lain yang ada di Indonesia, jadi harus dijaga betul” ucapnya.

Koster juga berpesan kepada seluruh desa adat se Bali untuk mengawasi oknum-oknum yang membawa nilai-nilai ajaran dari luar, yang bisa merusak tatanan kehidupan beragama, seni dan adat istiadat di Bali.

“Jangan terpengaruh omongan yang menyesatkan. Ikuti apa yang menjadi warisan kita. Majelis desa adat harus menjaga wewidangannya masing-masing, jangan sampai terpengaruh dengan ajaran-ajaran dari luar yang tidak sesuai dengan kearifan lokal kita di Bali,” tegasnya.

Halaman
12
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved