Breaking News:

Corona di Bali

Cegah Klaster Pengadilan, PN Denpasar Kembali Lakukan Rapid Test Massal Gratis

PN Denpasar kembali melakukan rapid test massal gratis, Jumat (11/9/2020)

Tribun Bali/I Putu Candra
Rapid test massal kembali dilakukan PN Denpasar bekerjasama dengan TNI AU, Jumat (11/9/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pasca melakukan lockdown selama dua pekan, lantaran ada beberapa hakim dan pegawainya terkonfirmasi positif Covid-19.

Pihak Pengadilan Negeri (PN) Denpasar kembali melakukan rapid test massal gratis, Jumat (11/9/2020).

Rapid test diikuti seluruh hakim, panitera, pengacara, pegawai, honorer, petugas keamanan, penjaga kantin, serta awak media yang kerap wara-wiri meliput di lingkungan PN Denpasar.

Pulang dari Semarang, Relawan yang Sudah Disuntik Vaksin Sinovac Terinfeksi Covid-19

109 Dokter Meninggal Dunia Akibat Covid-19, Bali 4 Orang, Terbanyak Jawa Timur 29 Orang

Penyebaran Covid-19 di Bali Meningkat, Satgas Gotong Royong Desa Adat Diminta Kembali Aktif

"Kami kembali melakukan rapid test massal di lingkungan PN Denpasar. Ini rapid test kedua. Tujuan jelas untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Kami menjaga agar tidak ada klaster pengadilan. Jangan sampai menyebar," jelas Kepala PN (KPN) Denpasar, Sobandi ditemui disela pelaksaan rapid test.

Ia menyatakan, untuk rapid test kedua ini bekerjasama dengan TNI Angkatan Udara.

Pun, akan dilakukan secara berkala.

"Ini rapid test kedua dan akan kami terus lakukan secara berkala. Bukan hanya sekarang saja. Karena sesuai instruksi Mahkamah Agung, kami diperintahkan melakukan rapid test secara berkala," tutur Sobandi.

Catat Rekor Baru Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19 di Jakarta, Sehari TPU Ini Makamkan 40 Jenazah

Ruang Isolasi Hampir Penuh 100 Persen, 2 RS Rujukan Covid-19 di Tabanan Bakal Tambah 50 Bed

Ruang Isolasi Hampir Penuh 100 Persen, 2 RS Rujukan Covid-19 di Tabanan Bakal Tambah 50 Bed

Sementara itu, sebanyak 184 orang mengikuti rapid test.

Dari jumlah tersebut, didapati 10 orang yang hasilnya reaktif rapid test.

"Kalau ada yang reaktif tanpa gejala mungkin akan disuruh isolasi. Kami berikan izin untuk work from home (WFH). Kalau yang dengan gejala akan kami fasilitasi swab test. Semuanya tanpa dipungut biaya," tegas Sobandi.

(*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved