Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Merasa Lelah Fisik dan Emosional? Coba Lakukan Hal-Hal Ini

Seiring waktu, stres yang tak kunjung reda, bahkan sampai hitungan bulan dan tahun, dapat membuat orang merasa mati rasa atau lelah secara emosional.

kompas.com
Ilustrasi lelah 

TRIBUN-BALI.COM — Pandemi covid-19 yang berlarut-larut, ketidakpastian ekonomi, dan kecemasan akan tertular penyakit, telah membuat kita merasakan banyak emosi yang intens, seperti ketakutan, cemas, dan kemarahan.

Seiring waktu, stres yang tak kunjung reda, bahkan sampai hitungan bulan dan tahun, dapat membuat orang merasa mati rasa atau lelah secara emosional.

Perasaan ini dijuluki "kelelahan krisis”.

Menurut Dr. Petros Levounis, profesor dan ketua departemen psikiatri, Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey, manusia akan melalui empat tahap dalam menanggapi suatu krisis.

"Pertama, fase heroik. Di sini, semua orang berkumpul dan banyak tindakan yang mencoba merespons dengan melakukan apa yang perlu dilakukan selama krisis,” kata Levounis.

4 Hal Ini Sebaiknya Tidak Anda Lakukan Pada Organ Intim Wanita, Efeknya Berbahaya!

Promo Indomaret 13 September 2020, Diskon Produk Kecantikan dan Makanan, Lebih Hemat Pakai LinkAja

Hari Terakhir Promo JSM Indomaret, Diskon Beras, Minyak Goreng hingga Deterjen

Berikutnya, fase bulan madu, di mana orang-orang merasa nyaman menjadi bagian dari komunitas.

"Setelah itu adalah fase kekecewaan, seperti yang kita rasakan sekarang dan saat itulah kita menghadapi kelelahan krisis,” ujar Levounis.

Fase ini bisa berlangsung beberapa bulan, dengan orang-orang merasa dalam keadaan yang buruk, sampai mereka mulai berupaya mencari cara untuk pemulihan dan pembangunan kembali setelah krisis berlalu.

Mengapa kelelahan krisis terjadi

Mengenai mengapa kelelahan krisis terjadi, Firdaus S. Dhabhar, PhD, profesor di departemen psikiatri dan ilmu perilaku menjelaskan, respon stres alami manusia, yaitu lawan atau tinggalkan, yang berlangsung lama bisa berbahaya. 

“Respon alami terhadap stres dalam jangka pendek adalah teman kita. Respons stres biologis dapat melindungi kita selama situasi atau krisis yang menantang,” katanya.

Namun, ketika stres menjadi kronis dan berlangsung selama berminggu-minggu, efeknya berbahaya dan dalam kondisi yang sangat berulang atau parah, dapat menyebabkan kelelahan krisis.

Seorang Bule Asal Australia Terkapar di Pinggir Jalan By Pass Ngurah Rai dengan Luka-Luka

Selain Enak, Makanan & Minuman Ini Juga Dapat Menyehatkan Vagina

Segera Berakhir, Promo JSM Alfamart 11-13 September 2020, Banjir Diskon dari Beras hingga Popok Bayi

Levounis menjelaskan bahwa orang menginvestasikan banyak energi pada fase awal, tetapi tubuh manusia tidak dapat mempertahankan keadaan adrenalin tinggi untuk waktu yang lama, sehingga keadaan ini menjadi tak bisa dihindari.

Levounis mengatakan bahwa gejalanya bisa ke salah satu dari dua arah.

"Salah satunya adalah hiperarousal, atau kecemasan tinggi, keadaan di mana orang mudah tersinggung dan hal kecil apa pun dapat memicu mereka," katanya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved