Israel Umumkan Status Darurat Covid-19 di Seluruh Rumah Sakit
Dalam surat yang ditujukan kepada kepala rumah sakit, yang salinannya dilihat oleh Xinhua, dirjen kementerian
TRIBUN-BALI.COM, YERUSALEM - Kementerian Kesehatan Israel pada Senin (21/9/2020) menyatakan status darurat di seluruh rumah sakit setelah terjadi tingkat tak biasa baru-baru ini pada kasus Covid-19.
Dalam surat yang ditujukan kepada kepala rumah sakit, yang salinannya dilihat oleh Xinhua, dirjen kementerian Hezi Levi memperingatkan sistem kesehatan Israel diprediksikan bakal melebihi batas kapasitas dalam hitungan pekan atau beberapa hari ke depan.
Dalam 10 hari, akan ada tambahan 200 hingga 300 pasien Covid-19 dalam kondisi serius, termasuk yang menggunakan ventilator.
Pada Senin kemarin, jumlah pasien kritis Covid-19 di Israel mencapai rekor 651 orang, dari 1.348 pasien rawat inap saat ini.
"Seperti dalam kondisi darurat, saya berharap manajemen rumah sakit terlibat dalam upaya nasional untuk mengatasi beban morbiditas," tulis Levi.
• Ini 5 Alasan Kenapa Anda Bisa Merasakan Mimpi Buruk, Stres Berat hingga Sering Begadang
• Awas, 3 Zodiak Ini Tidak Segan untuk Mengkhianati Orang Lain, Sulit Ditebak dan Spontan
• KPU Siapkan Sanksi Bagi Pelanggar Prokes Saat Kampanye, Mulai Peringatan Hingga Larangan Kampanye
Levi juga mengumumkan pembentukan markas operasi nasional, yang akan beroperasi selama 24 jam penuh, untuk mengawasi aktivitas seluruh rumah sakit serta memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi mereka.
Dari Mexico City dilaporkan, Meksiko melampaui 700.000 kasus virus corona yang dikonfirmasi pada hari Senin (21/9/2020) di saat otoritas kesehatan menggambarkan tingkat infeksi yang melambat selama hampir dua bulan.
Pada hari Senin, Kementerian Kesehatan melaporkan 2.917 kasus baru yang dikonfirmasi dari virus corona baru di negara Amerika Latin itu, sehingga total menjadi 700.580 serta jumlah kematian kumulatif 73.697.
Menurut hitungan Reuters, Amerika Latin telah mencatat sekitar 8,7 juta kasus virus corona dan lebih dari 322.000 kematian, keduanya merupakan yang tertinggi di wilayah mana pun.
Brasil adalah negara yang paling terpukul di kawasan ini, Peru, Kolombia dan Meksiko juga mengalami wabah parah.
Terlepas dari tindakan penguncian yang agresif di banyak negara di seluruh kawasan serta kepatuhan luas dalam strategi mitigasi seperti masker dan jarak sosial, para ahli menilai kemiskinan telah membuat pembatasan menjadi sulit.
Di Meksiko, otoritas kesehatan senior seperti Wakil Menteri Kesehatan Hugo Lopez-Gatell, wajah publik dari strategi virus corona pemerintah, telah mengakui bahwa jumlah kasus sebenarnya di negara tersebut secara signifikan lebih tinggi dari angka resmi yang ditunjukkan.
Namun, dia berpendapat bahwa wabah di Meksiko telah menunjukkan tanda-tanda melambat selama beberapa bulan terakhir.
"Kami sekarang mengalami delapan minggu berturut-turut penurunan (beban kasus)," kata Lopez-Gatell kepada wartawan pada pertemuan rutin Senin malam.
Dia sebelumnya mengutip penurunan tingkat rawat inap dan kematian baru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/covid-19.jpg)