Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bursa Saham Global Jatuh Pasca Debat Panas Kandidat Calon Presiden AS

Kekhawatiran akan hasil Pilpres negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu juga membawa tekanan pada pasar saham di Eropa.

Tayang:
Editor: Wema Satya Dinata
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Foto ilustrasi saham yang menurun 

TRIBUN-BALI.COM - Indeks saham berjangka di Amerika Serikat (AS) merosot bersama dengan sebagian besar pasar saham pasca debat calon presiden AS yang berlangsung panas.

Kekhawatiran akan hasil Pilpres negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu juga membawa tekanan pada pasar saham di Eropa.

Kontrak berjangka yang dibeli dan dijual investor yang berpatokan pada indeks S&P 500 turun 0,8% setelah debat kedua calon presiden AS tersebut.

Debat calon presiden incumbent Donald Trump dan pesaingnya dari Partai Demokrat, Joe Biden berlangsung sengit.

Purnama Kapat Baik untuk Pembersihan dan Penyucian Diri, Begitu Juga Bersedekah

Ketua Bawaslu: Pada Pilkada Serentak Petahana Berpotensi Kerahkan ASN sehingga Langgar Netralitas

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, Simak Perbedaannya dengan Hari Lahir Pancasila 1 Juni

Kedua kandidat bertarung dengan perdebatan terkait kepemimpinan Trump dalam mengelola ekonomi AS, penanganan Covid-19, dan terkait komitmen terhadap hasil pilpres pada November mendatang.

Banyak yang meragukan Trump akan menerima hasil keputusan pemilihan sehingga menambah ketidakpastian di pasar.

Saat ditanya berulang kali apakah ia akan berkomitmen menghormati hasil pemilihan pada November mendatang, Trump malah mengulangi pernyataannya tentang kecurangan dalam pemilihan yang semakin meluas.

Supriya Menon, Ahli Strategi Senior Pictet Asset Management menegaskan, Trump jelas tidak meredakan kekhawatiran terkait kursi presiden yang diperebutkan seandainya dia kalah.

"Dia juga tampaknya sedikit memenangkan pemilih independen," tambah Menon dikutip Financial Times, Rabu (30/9/2020).

Ia menambahkan, perdebatan itu justru meningkatkan prospek kemenangan Demokrat. Namun, itu berarti pendapatan korporasi akan lebih rendah ke depan jika Biden menaikkan pajak.

Lalu, pemerintah juga akan bermasalah jika Trump tidak menerima hasil Pilpres.

Kekhawatiran pemilihan yang disengketakan juga meningkatkan kekhawatiran bahwa pasar saham AS akan bergejolak setelah pemungutan suara.

Kontrak berjangka yang disematkan ke Vix menunjukkan bahwa indeks yang dikenal sebagai pengukur kekhawatiran pasar, akan mencapai pembacaan 30 atau lebih pada  Oktober - Desember.

Saat pasar sedang tenang, Vix biasanya diperdagangkan pada 20 atau lebih rendah.

Pekerja Berencana Gelar Mogok Kerja Nasional, Menteri Perdagangan Minta Perusahaan Cegah Aksi Itu

Klaster Kondangan Muncul, 1 Orang Meninggal Dunia, 21 Orang Terpapar

Langkah Victoria  Azarenka di Roland Garros Sudah Berakhir

Kontrak berjangka pada indeks Nasdaq 100 yang berfokus pada emiten-emiten teknologi turun lebih dari 1% pada perdagangan hari ini, Rabu (30/9/2020).

Kekhawatiran itu pun berimbas terhadap saham-saham di Eropa.

Bursa Stoxx 600 di seluruh Eropa melorot 0,5%, Xetra Dax di Frankfurt turun 0,7% dan CAC 40 Prancis turun 0,6%.

Penurunan tidak tertahan meskipun data ekonomi menunjukkan bahwa ekonomi di China, yang impor dan aktivitas pendukung konsumsi luar negerinya di seluruh dunia, pulih dengan kuat dari pandemi virus corona.

Indeks manajer pembelian resmi China untuk sektor manufaktur, yang melacak bagaimana perusahaan berdagang dan seberapa percaya diri manajer, naik ke pembacaan 51,5 pada September dari 51 pada Agustus.

 Ini lebih baik dari perkiraan ekonom yang disurvei oleh Reuters yakni sebesar 50.

Pesanan ekspor baru naik untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 dimulai.

Namun data tersebut gagal mengangkat pasar saham China dan harga minyak.

Indeks CSI 300 China dari Shanghai dan saham yang terdaftar di Shenzhen melorot 0,1%, sementara minyak mentah Brent turun 0,5 persen menjadi $ 40,81 per barel.

Kristina Hooper, Kepala Strategi Pasar Global Invesco menilai hal itu terjadi karena pasar tengah khawatir atas pemilihan presdien AS.

"Saya memperkirakan volatilitas pasar saham dan aksi jual pasar saham jangka pendek di minggu-minggu menjelang pemilihan," pungkasnya.(*)

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved