Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Gelombang Tinggi, Nelayan Gumicik Pilih Libur Melaut

Para nelayan di Pantai Gumicik, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali sudah tidak melaut sejak sepekan ini.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Foto: Para nelayan tengah memperbaiki perlengkapan melaut, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Para nelayan di Pantai Gumicik, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali sudah tidak melaut sejak sepekan ini.

Hal ini dikarenakan angin relatif kencang, yang mengakibatkan tinggi gelombang laut mencapai dua sampai tiga meter, sehingga membahayakan keselamatan nelayan yang selama ini hanya menggunakan jukung tradisional.

Pemerhati nelayan Gumicik, Wayan Puja, Kamis (8/10/2020) mengatakan, sejak sepekan ini nelayan di Pantai Gumicik tidak memiliki penghasilan.

Hal itu dikarenakan, pendapatan utama mereka dari hasil melaut untuk sementara ini tidak tergarap, karena kondisi gelombang tidak mendukung.

Profil Go Ara, Pemeran Ra Ra di Drama Korea Terbaru Do Do Sol Sol La La Sol

Belum Ada Desa Wisata di Gianyar Terverifikasi Protokol Kesehatan

Jenderal Andika Perkasa Tak Tega Berangkatkan 2 Prajurit TNI AD Ke Papua Setelah Melihat Anaknya

Kata dia, akibat angin kencang dan gelombang tinggi, mengakibatkan nelayan Gumicik enggan melaut.

Hal ini akibat tempat tambatan perahu rawan disapu gelombang.

Dulu, kata dia, pernah perahu milik nelayan tersapu gelombang tinggi, sebagian perahu mengalami kerusakan.

Apalagi sampai saat ini di Pantai Gumicik belum sepenuhnya terpasang tanggul pantai.

Menurut dia, ada sekitar 400 meter yang belum dipasangi tanggul.

"Sudah sejak sepekan nelayan tidak melaut, angin kencang dan gelombang tinggi. Sehingga praktisnya, sejak seminggu ini nelayan Gumicik yang berjumlah 50 an itu tidak mendapatkan penghasilan. Tidak ada yang ngotot melaut karena akan sangat membahayakan keselamatan," tandasnya.

Menurut pria Banjar Gumicik ini, saat ini para nelayan hanya mengisi waktu dengan memperbaiki perahu dan alat tangkap.

Namun tak sedikit juga nelayan yang tidak melakukan apa-apa.

Kata dia, sebelum pandemi, jika kondisi angin seperti ini, biasanya para nelayan mencari pekerjaan lain, misalnya menjadi undagi.

Namun karena kondisi seperti ini, kata dia, relatif susah mencari pekerjaan.

"Biasanya ada yang beralih pekerjaan sebagai buruh, namun saat ini proyek sedang sepi, dan saingannya juga banyak karena banyak masyarakat yang juga kehilangan pekerjaan, terutama yang sebelumnya kerja di pariwisata," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved