Breaking News
Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Adakah Hubungan antara Stres dan Serangan Jantung? Ini Penjelasannya

kecemasan berisiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit jantung, yakni arteri koroner, gagal jantung, dan gangguan irama jantung

Editor: Wema Satya Dinata
Gambar oleh Pete Linforth dari Pixabay
Foto ilustrasi wanita yang sedang stres dan memiliki banyak masalah 

TRIBUN-BALI.COM - Stres kronis dapat menyebabkan munculnya tekanan darah tinggi ( hipertensi) yang merupakan salah satu faktor risiko utama serangan jantung.

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2010 di Current Hypertension Reports, stres kronis -entah karena masalah ekonomi, percintaan, dan lainnya, berkontribusi pada terjadinya hipertensi.

Sementara, sekitar 70 persen orang yang mengalami serangan jantung setelah menderita hipertensi.

Seiring waktu, stres yang berkepanjangan tentu dapat berdampak negatif.

Baca juga: Mengandung Enzim Bromelin, Jus Nanas Efektif Mengobati Asam Urat

Baca juga: Kemendikbud: 123 Mahasiswa Positif Covid-19 Setelah Unjuk Rasa UU Cipta Kerja

Baca juga: Polisi Amankan 3 Pemuda Saat Balapan Liar di Bypass Ir Soekarno Tabanan

Misalnya, kecemasan berisiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit jantung, yakni arteri koroner, gagal jantung, dan gangguan irama jantung seperti takikardia.

Selain itu, stres dapat mengaktifkan kebiasaan tidak sehat saat orang berusaha mengatasinya, Misalnya, dengan mulai merokok, mengonsumsi banyak alkohol, atau makan berlebihan yang dapat berdampak pada meningkatkan risiko serangan jantung.

Di samping itu, kita perlu mewaspadai stres yang memengaruhi jantung dengan menyebabkan takotsubo cardiomyopathy  atau yang dikenal sebagai "sindrom patah hati."

Takotsubo cardiomyopathy terasa seperti serangan jantung dengan gejala nyeri dada dan sesak napas.”

Demikian penjelasan ahli jantung di Dartmouth Hitchcock Medical Center, Lauren Gilstrap, MD.

Gejala tersebut bisa muncul secara tiba-tiba, dipicu oleh peristiwa emosional yang menegangkan, seperti kematian mendadak orang yang dicintai.

Melakukan aktivitas fisik dan olahraga merupakan cara yang dapat mengurangi stres secara keseluruhan, serta meningkatkan kesehatan jantung.

Namun, membuat perubahan gaya hidup untuk mengurangi stres sangatlah sulit bagi kebanyakan orang. 

Untuk itu, Gilstrap merekomendasikan pasiennya untuk melihat secara realistis penyebab stres dalam hidup, dan mulai menyesuaikan apa yang mereka bisa lakukan.

 Di saat bersamaan, mereka diminta untuk tidak terlalu khawatir tentang apa yang ada di luar kendali mereka.

Baca juga: Survei: Publik Yakin Vaksin Covid-19 Merah Putih Akhiri Pandemi

Baca juga: Tekan Angka Covid-19, Pelabuhan Ketapang Perketat Penjagaan Masuk Bali

Baca juga: Mengenal Sosok Ibu Mertua Nikita Willy yang Bukan Orang Sembarangan

"Hidup itu rumit dan orang memiliki tuntutan dari berbagai tempat," ujar Gilstrap.

"Ini tentang memperbaiki hal-hal, membangun kesuksesan, dan memberdayakan pasien untuk membuat perubahan yang lebih positif,” sambung dia.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pahami, Hubungan antara Stres dan Potensi Serangan Jantung",

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved