Ngopi Santai
Vaksin Stres
kondisi yang stressful, jika dimaknai secara positif, tidak hanya memunculkan adrenalin, yakni hormon yang membuat jantung berdegup lebih kencang
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Namun, internet juga merupakan pasar bebas bagi informasi dan pengetahuan, yang rancu rambu-rambu serta petunjuk arahnya. Karena itu, tuntunan yang mengajarkan doa untuk memohon perlindungan Tuhan dari ilmu yang tidak bermanfaat, terasa menemukan timing-nya dewasa ini.
Di atas itu semua, manusia juga perlu belajar dari pengalamannya sendiri, dan itu hanya akan bisa diperoleh melalui “belajar ke dalam”, bukan “belajar ke luar”. Luangkanlah waktu untuk menyendiri, berkontemplasi, melakukan perenungan mendalam atas diri dan perjalanan diri dalam kehidupan.
Saya pun mulai memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang stres, dan tentang apa sejatinya masalah di kehidupan setelah "belajar ke dalam" dan menurunkan speed dalam mengoleksi pengetahuan dari luar.
Saya simpulkan, masalah dan stres ada karena memang sudah diadakan dari “sononya”, dan tentu itu ada maksud dan tujuannya. Coba bayangkan hidup tanpa stres, hidup tanpa masalah, seperti apa jadinya?
Sebagaimana siang dan malam, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, susah dan senang, banyak hal (bahkan bisa jadi hampir semua hal) dalam kehidupan diciptakan berpasangan.
Kita bisa mengenal ketenangan dan kedamaian karena kita tahu apa itu keributan dan konflik. Kita mengenal perasaan tertekan dan stres, karena ada perasaan ringan, rileks dan nyaman.
Itulah yang oleh nenek moyang kita disebut sebagai rwa bhineda. Yakni dua hal berbeda dalam kehidupan yang selalu ada dalam satu paket dan tak terpisahkan satu sama lain. Sesuatu yang jika ada, maka yang lainnya dipastikan selalu ada sebagai penyeimbangnya. Di situlah justru letak kesempurnaan.
Karena itu, menginginkan hidup tanpa stres, justru itu merupakan bibit stres. Mendambakan hidup bebas dari masalah, itu justru awal dari belitan masalah.
Yang terpenting bukan ada/tidaknya masalah, tetapi bagaimana respon kita dalam menghadapi masalah. Kejadian, peristiwa dan keadaan tertentu bisa saja memantik atau menstimulasi stres. Tetapi, itu akan benar-benar menjelma menjadi stres tergantung pada apa dan bagaimana respon yang kita berikan terhadap stimulus itu.
Kita tidak bisa menolak stimulus atau pemicu stres dari luar. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana respon kita terhadap stimulus itu. Kendali di tangan kita.
Dengan respon yang tepat, justru adanya masalah yang bikin stres itu merupakan jalan untuk mendapatkan pelajaran yang berharga, dan menjadi guru yang bisa membuat kualitas hidup bertumbuh.
Jadi, sekali lagi, poinnya bukan pada adanya masalah, tetapi pada bagaimana kita mempersepsi masalah. Apakah kita persepsi sebagai suatu yang merugikan dan menghancurkan kita, ataukah sebagai sebuah tantangan dan ujian yang akan membuat kita lebih tangguh, kuat dan bertumbuh lebih positif.
Menurut Ian Robertson, neurosaintis ternama penulis buku The Stress Test: How Pressure Can Make You Stronger and Sharper (2017), ada hal-hal yang baik dari stres.
Kata dia, menghadapi kesulitan akan melatih membentuk kekuatan mental dalam menghadapi tekanan-tekanan di masa depan.
“Itu seperti halnya mendapatkan vaksin untuk membangun kekebalan tubuh dalam melawan penyakit di masa depan. Intinya, jika anda tahu bagaimana cara mengelolanya, justru stres akan membuat otak anda jadi lebih kuat,” kata Robertson.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-gadis-yang-sedang-stres-dan-sedih.jpg)