Ngopi Santai
Vaksin Stres
kondisi yang stressful, jika dimaknai secara positif, tidak hanya memunculkan adrenalin, yakni hormon yang membuat jantung berdegup lebih kencang
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Kejadian atau kondisi yang stressful, jika dimaknai secara positif, tidak hanya memunculkan adrenalin, yakni hormon yang membuat jantung berdegup lebih kencang, tetapi secara bersamaan juga memicu keluarnya hormon oxytocin.
Disebut juga sebagai hormon kasih sayang (cuddle hormone), oxytocin mendorong seseorang untuk lebih banyak berinteraksi sosial dan berbuat baik pada orang lain (Healing The Soul, Afzan, 2019).
Coba bayangkan seseorang di saat awal dilanda asmara. Ketika akan bertemu dengan sang pujaan, jantungnya berdebar lebih kencang (ini tanggung jawab hormon adrenalin) dan pada saat bersamaan perasaan cintanya juga mengembang (karena peningkatan kadar oxytocin).
Jadi, kata kuncinya: respon yang positif terhadap stresor akan mendorong seseorang lebih banyak silaturahmi dan berbuat baik.
Filsuf Friedrich Nietzsche pun mengungkapkan dalam salah-satu pernyataannya yang populer “what doesn’t kill you, makes you stronger” (apa yang tidak sampai membunuhmu, maka itu akan membuatmu lebih kuat).
Adanya masalah dan stres yang menyertainya, mengajari kita tentang kesabaran, penerimaan, keridaan dan kepasrahan pada Tuhan. Demikian pula halnya, adanya kenikmatan seharusnya mengajarkan pada kita tentang rasa syukur, empati, peduli dan berbagi.
Bukankah kehidupan itu berayun diantara ujian untuk bersabar dan ujian untuk bersyukur?
Bagaimana pendapat(an) anda? (*)
Denpasar, 27 Oktober 2020
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-gadis-yang-sedang-stres-dan-sedih.jpg)