Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Vaksin Stres

kondisi yang stressful, jika dimaknai secara positif, tidak hanya memunculkan adrenalin, yakni hormon yang membuat jantung berdegup lebih kencang

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Gambar oleh Ryan McGuire dari Pixabay
Foto ilustrasi gadis yang sedang stres dan sedih 

Stres gara-gara ingin menghindari stres, itu mungkin terdengar konyol bukan? Tetapi, demikianlah yang pernah saya alami.

Awalnya adalah karena membaca cukup banyak buku psikologi dan mengikuti isu-isu yang terkait dengan kesehatan mental, dan di sana saya menemukan satu kata yang sangat banyak disebut, yakni stres.

Seperti mungkin dialami oleh banyak orang lain, saya pun menyimpulkan bahwa stres itu negatif, buruk, jelek dan biang keladi atau sumbernya berbagai penyakit.

“Banyak penyakit bersumber dari stres atau tekanan batin,” demikian yang banyak ditulis.

Bahkan seorang pakar mengungkapkan, lebih 90 persen penyakit disebabkan oleh pikiran (yang stres).   

Singkat kata, saya jadi memiliki persepsi negatif terhadap stres justru setelah terpapar banyak bacaan tentang stres dan dampaknya. Nah, rentetannya, saya pun berusaha menghindari stres.

Baca juga: Takut dan Cinta Tak Mungkin Hidup Bersama

Baca juga: Senyumlah Semanis Madu

Cara berlogika saya saat itu simpel saja: karena stres identik dengan masalah, maka supaya tidak stres, saya berusaha untuk menghindari masalah.

Jadi, setiap ada masalah, saya berusaha untuk menghindari atau menjauh darinya. “Bukankah stres itu buruk, sehingga menghindari keburukan adalah pilihan yang tepat?” begitu pikir saya.

Atau kalau tidak bisa menghindar, saya bernafsu untuk secepatnya menyelesaikan masalah, karena saya tidak ingin stres akibat masalah itu. Akan tetapi, semakin saya ngotot untuk cepat-cepat menyelesaikan masalah, semakin bertahan masalah itu, dan saya pun semakin stres.

Sesungguhnya, saya membaca pula tentang pentingnya penerimaan (acceptance) dalam proses menyelesaikan masalah. Kira-kira, inti ajaran acceptance itu begini: terimalah kenyataan, berdamailah dengannya, dan separuh dari masalah terselesaikan.

Tetapi karena pada saat bersamaan saya juga memiliki persepsi bahwa stres itu jahat, maka di dalam diri terjadi konflik antar-gagasan. Inner conflict of ideas.

Terjadi tarik-menarik antara dua ide itu di dalam pikiran. Di kemudian hari saya ketahui bahwa ini sebetulnya sebuah sindrom kebingungan akibat banyak membaca atau –lebih tepatnya-- mengoleksi pengetahuan.

Saya mengalami apa yang disebut sebagai infobesity (obesitas informasi) atau information anxiety (kecemasan informasi) akibat terlalu banyak (overload) bacaan yang saya konsumsi, sehingga sulit melakukan ekstraksi atau penyaringan dengan jernih alias justru bertambah bingung. Kemampuan pikiran saya dalam memproses informasi tidak sebanding dengan banyaknya input yang saya jejalkan ke pikiran. 

Alhasil, saya stres karena ingin menghindari stres akibat persepsi yang salah mengenai stres. Muter-muter di situ saja.

Baca juga: Menjadi Diri Sendiri dan Masa Bodoh

Baca juga: Mengapa Kini Orang Lebih Mudah Nyinyir daripada Mikir?

Karena itu, selektif-lah dalam menimba pengetahuan. Internet, terutama, memang demikian menggoda kita untuk menjadi kolektor informasi dan pengetahuan, termasuk mengoleksi pengetahuan melalui webinar yang kini tawarannya mengalami "inflasi" dan menggiurkan.

Namun, internet juga merupakan pasar bebas bagi informasi dan pengetahuan, yang rancu rambu-rambu serta petunjuk arahnya. Karena itu, tuntunan yang mengajarkan doa untuk memohon perlindungan Tuhan dari ilmu yang tidak bermanfaat, terasa menemukan timing-nya dewasa ini.

Di atas itu semua, manusia juga perlu belajar dari pengalamannya sendiri, dan itu hanya akan bisa diperoleh melalui “belajar ke dalam”, bukan “belajar ke luar”. Luangkanlah waktu untuk menyendiri, berkontemplasi, melakukan perenungan mendalam atas diri dan perjalanan diri dalam kehidupan.

Saya pun mulai memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang stres, dan tentang apa sejatinya masalah di kehidupan setelah "belajar ke dalam" dan menurunkan speed dalam mengoleksi pengetahuan dari luar.

Saya simpulkan, masalah dan stres ada karena memang sudah diadakan dari “sononya”, dan tentu itu ada maksud dan tujuannya. Coba bayangkan hidup tanpa stres, hidup tanpa masalah, seperti apa jadinya?

Sebagaimana siang dan malam, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, susah dan senang, banyak hal (bahkan bisa jadi hampir semua hal) dalam kehidupan diciptakan berpasangan.

Kita bisa mengenal ketenangan dan kedamaian karena kita tahu apa itu keributan dan konflik. Kita mengenal perasaan tertekan dan stres, karena ada perasaan ringan, rileks dan nyaman.

Itulah yang oleh nenek moyang kita disebut sebagai rwa bhineda. Yakni dua hal berbeda dalam kehidupan yang selalu ada dalam satu paket dan tak terpisahkan satu sama lain. Sesuatu yang jika ada, maka yang lainnya dipastikan selalu ada sebagai penyeimbangnya. Di situlah justru letak kesempurnaan.

Karena itu, menginginkan hidup tanpa stres, justru itu merupakan bibit stres. Mendambakan hidup bebas dari masalah, itu justru awal dari belitan masalah.

Yang terpenting bukan ada/tidaknya masalah, tetapi bagaimana respon kita dalam menghadapi masalah. Kejadian, peristiwa dan keadaan tertentu bisa saja memantik atau menstimulasi stres. Tetapi, itu akan benar-benar menjelma menjadi stres tergantung pada apa dan bagaimana respon yang kita berikan terhadap stimulus itu. 

Kita tidak bisa menolak stimulus atau pemicu stres dari luar. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana respon kita terhadap stimulus itu. Kendali di tangan kita.

Dengan respon yang tepat, justru adanya masalah yang bikin stres itu merupakan jalan untuk mendapatkan pelajaran yang berharga, dan menjadi guru yang bisa membuat kualitas hidup bertumbuh.

Jadi, sekali lagi, poinnya bukan pada adanya masalah, tetapi pada bagaimana kita mempersepsi masalah. Apakah kita persepsi sebagai suatu yang merugikan dan menghancurkan kita, ataukah sebagai sebuah tantangan dan ujian yang akan membuat kita lebih tangguh, kuat dan bertumbuh lebih positif.

Menurut Ian Robertson, neurosaintis ternama penulis buku The Stress Test: How Pressure Can Make You Stronger and Sharper (2017), ada hal-hal yang baik dari stres.

Kata dia, menghadapi kesulitan akan melatih membentuk kekuatan mental dalam menghadapi tekanan-tekanan di masa depan.

“Itu seperti halnya mendapatkan vaksin untuk membangun kekebalan tubuh dalam melawan penyakit di masa depan. Intinya, jika anda tahu bagaimana cara mengelolanya, justru stres akan membuat otak anda jadi lebih kuat,” kata Robertson.

Kejadian atau kondisi yang stressful, jika dimaknai secara positif, tidak hanya memunculkan adrenalin, yakni hormon yang membuat jantung berdegup lebih kencang, tetapi secara bersamaan juga memicu keluarnya hormon oxytocin.

Disebut juga sebagai hormon kasih sayang (cuddle hormone), oxytocin mendorong seseorang untuk lebih banyak berinteraksi sosial dan berbuat baik pada orang lain (Healing The Soul, Afzan, 2019).

Coba bayangkan seseorang di saat awal dilanda asmara. Ketika akan bertemu dengan sang pujaan, jantungnya berdebar lebih kencang (ini tanggung jawab hormon adrenalin) dan pada saat bersamaan perasaan cintanya juga mengembang (karena peningkatan kadar oxytocin).

Jadi, kata kuncinya: respon yang positif terhadap stresor akan mendorong seseorang lebih banyak silaturahmi  dan berbuat baik.

Filsuf Friedrich Nietzsche pun mengungkapkan dalam salah-satu pernyataannya yang populer “what doesn’t kill you, makes you stronger” (apa yang tidak sampai membunuhmu, maka itu akan membuatmu lebih kuat).

Adanya masalah dan stres yang menyertainya, mengajari kita tentang kesabaran, penerimaan, keridaan dan kepasrahan pada Tuhan. Demikian pula halnya, adanya kenikmatan seharusnya mengajarkan pada kita tentang rasa syukur, empati, peduli dan berbagi.

Bukankah kehidupan itu berayun diantara ujian untuk bersabar dan ujian untuk bersyukur?

Bagaimana pendapat(an) anda? (*)

Denpasar, 27 Oktober 2020

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
3 - 0
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
3 - 1
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved