Wiki Bali
WIKI BALI - Mengenal Lebih Dekat Banten dan Rentetan Upacara Ngaben di Bali
Jika masyarakat tidak memiliki dana yang besar untuk banten yang besar, cukup dengan banten pokok saja agar upacara pengabenan puput atau selesai
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti | Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ngaben adalah upacara yadnya yang dilakukan di Bali, saat ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia.
Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmita, menjelaskan dengan rinci seperti apa prosesi dan banten dari upacara ngaben ini.
Tribun Bali, berkesempatan berkunjung langsung bertemu pandita, di Griya Agung Sukawati, Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar.
Makna filosofis ngaben, kata dia, intinya adalah pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta ke alam asalnya.
Baca juga: Pancoran Solas Taman Mumbul, Wisata Religi Dengan 3 Konsep Penglukatan
Baca juga: Prancis Naikkan Status Darurat ke Level Tertinggi Setelah Diguncang 2 Serangan dalam Sehari
Baca juga: Polda Bali Belum Tetapkan Tersangka Dugaan Kasus Penganiayaan Senator AWK
Baca juga: Upah Minimum 2021 Tak Naik, OPSI Minta Pemerintah Siapkan Bantuan Bagi Para Pekerja
Unsur-unsur tersebut, adalah pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Ini unsur yang ada di dalam tubuh.
“Misalkan unsur pertiwi, tulang belulang kita. Apah cairan yang ada dalam tubuh, darah dan sebagainya. Teja, adalah panas badan, lalu bayu tenaga dan gerakan kita (prana), dan akasa ruang hampa dalam tubuh kita,” jelasnya, Senin (26/10/2020).
Ini dalam tubuh kita, dikembalikan ke unsur makro kosmos seperti ke tanah, air, akasa, dan seterusnya.
Inilah yang menjadi inti pokok saat seseorang meninggal, menurut kepercayaan Hindu Bali.
Ia menjelaskan, ada banyak sastra Hindu yang memuat tentang pengabenan. Kemudian jenis pengabenan itu, mulai dari utama, madya, hingga nista.
“Banten pokok dalam pengabenan ini, intinya tarpana saji seperti bubur pirata, tunjung putih-kuning, banten rare, ini harus ada,” tegasnya.
Begitu juga ada penebusan, cukup pada saat ngaskara atau proses pembersihan di dalam tubuh seseorang pada saat meninggal.
Agar leluasa bisa diterima setelah dibersihkan agar bisa diterima di alam unsur kecil dan besar.
Ia menegaskan tidak perlu banyak banten, intinya adalah lengkap sesuai dengan sastra agama.
“Kalau ngaben inti itu cukup hanya suci, di Pura Dalem menghaturkan banten suci asoroh. Di Prajapati menghaturkan suci asoroh, dan pejati bilang bucu ini pokoknya,” sebutnya.
Piranti lainnya ada kajang, harus ada dalam upacara baik dalam skala kecil maupun besar. Ini sebagai simbol aksara suci, yang intinya Dasaksara dan Dasabayu.
Ada kajang pamijilan, kajang gede, dan kajang sari serta kajang sinom.
“Kajang ini digambar atau dilukis sesuai estetika dari imajinasi daripada leluhurnya,” jelasnya.
Sementara kajang sari ini, terdiri dari tulisan aksara semisal Brahma, Wisnu, Iswara.
Kemudian kajang sinom terbuat dari ental atau busung, berisi bunga rampai, canang pesucian, canang gantal, canang raka. Diisi kwangen, bisa 11 dan bisa 22.
Kemudian harus ada tirta pangentas, simbol pelepasan atma dan ada ambengan serta sarana lainnya. Disertakan tulisan, utpeti, stiti, dan pralina.
“Ini berupa kupu-kupu, simbol Panca Maha Bhuta di dalam tubuh terus mengadakan perubahan. Dan setelah mati, berubah lagi serta akhirnya ke makro kosmos,” jelasnya.
Ada pula jijih, simbol benih-benih kehidupan agar lahir kembali (reinkarnasi) dengan benih menjadi bibit yang bagus.
“Jijih ini bisa 7, 9, atau 11 yang paling banyak,” sebutnya.
Ada pula pripihan, seperti emas, perak, tembaga, besi, dan mirah, yang mewakili jiwa. Sebab di Bali, Siwa Tattwa kembali ke alam Siwa sehingga harus ada mirah.
“Mirah tidak boleh palsu, harus asli. Begitu emas harus asli, biar sedikit ada rerejahan terdiri dari dasa bayu,” jelasnya.
Ini semua satu kesatuan yang mengantarkan roh atma ke alam asalnya.
Ada kajang aksara dalam tubuh halus, dan ada tirta pangentas. Ada 3 pokoknya, dan yang lainnya adalah tambahan dari inti upakara pengabenan.
Kalaupun tidak bisa membuat bade juga tidak masalah, cukup hanya dibuatkan asagan untuk bisa dibawa atau diusung ke setra.
Hal itu disebut wadah. Jika mau lebih besar, bisa menambah pregembal untuk diberikan ke Sang Hyang Durga Bairawi.
Lebih besar ada bebangkit, sebagai upasaksi satu, di pengaskaran satu, dan ada lagi di beberapa tempat.
Baca juga: Polda Bali Belum Tetapkan Tersangka Dugaan Kasus Penganiayaan Senator AWK
Baca juga: Spider Wan Buka Suara Terkait kelanjutan Kontraknya Pasca Liga 1 dan 2 Musim 2020 Ditunda
Baca juga: 6 Cara Mudah untuk Mencegah Sakit Punggung
Baca juga: KSBSI Serukan Sektor yang Masih Menikmati Keuntungan Selama Pandemi Naikkan Upah Minimum 2021
“Dalam lontar-lontar di Bali, tidak harus menggunakan lembu, atau singa dengan piranti minimal 3 bebangkit,” tegasnya.
Jika masyarakat tidak memiliki dana yang besar untuk banten yang besar, cukup dengan banten pokok saja agar upacara pengabenan puput atau selesai.
Ia mengingatkan, jangan sampai banten pengabenan ini hanya untuk menunjukkan eksistensi atau gaya-gayaan saja.
“Kalau pamer dalam upacara yadnya itu, namanya yadnya yang bersifat Rajasika,” jelasnya.
Namun harus sesuai dengan yadnya, yang ikhlas dan tulus suci dalam mengantarkan roh atma ke tempat asalnya.
Sesuai dengan upakara inti yang sesuai sastra agama Hindu di Bali. Begitupun dengan bade, pembuatannya harus dengan asta kosala kosali wadah.
Apalagi zaman sekarang, ada pula yang memudahkan dalam upacara pengabenan, yakni dengan ngaben di krematorium. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sejumlah-warga-mengiringi-arak-arakan-keranda-hias-yang-berisi-jenazah-tokoh-puri-kawan-kesiman.jpg)