Jumlah Petani Garam di Amed Terus Meningkat
Petani garam amed di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang terus meningkat setiap tahunnya.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ditambahkan, ada beberapa warga yang ingin kembali menjadi petani garam tapi kendala lahan dan peralatan. Kita sudah usul ke kementerian terkait lahan,"akui Suanda.
Data yang dihimpun Tribun Bali di lapangan, lahan pertanian garam yang terkikis karena pariwisata setiap harinya meningkat.
Baca juga: Daya Tarik Tanaman Hias Meningkat di Tengah Pandemi, Berikut Kiat Renato Hindari Penipuan
Baca juga: Ops Yustisi Sasar Simpang Enam Teuku Umar Denpasar, 26 Orang Terjaring Prokes
Baca juga: Restorasi Terumbu Karang di Pantai Pandawa, Warga yang Bantu Pengerjaan Dapat Rp 110 Ribu Per Hari
Seperti di Purwakerti lahan pertanian garam awalnya sekitar 965 are, kini tersisa sekitar 240 are.
Terkikisnya lahan pertanian garam karena maraknya hotel serta restoran.
"Untuk pengadaan lahan baru memang sudah ada target. Kita juga sudah usulkan ke kementerian terkait pengadaan lahan dan peralatan tradisional untuk petani garam," ujar Suanda yang juga menjabat sebagai kelian Desa Adat Lebah.
Untuk diketahui, tak hanya di Purwakerti lahan pertanian garam terkikis, di beberapa desa di Karangasem juga bernasib sama.
Seperti di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu. Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu. Desa Tianyar, Kecamatan Kubu. Desa Labasari Kecamatan Abang dan Manggis. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/proses-pembuatan-garam-amed-di-mpig.jpg)