Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Jumlah Petani Garam di Amed Terus Meningkat

Petani garam amed di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang terus meningkat setiap tahunnya.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Saiful Rohim
Proses pembuatan garam amed di lahan pertanian Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) di Banjar Lebah, Desa Purwakerti, Karangasem, Bali, Jumat (15/11/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Petani garam amed di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang terus meningkat setiap tahunnya.

Sampai akhir tahun 2020 sudah ada 26 warga yang kembali menjadi petani garam dan tergabung di Komunitas Masyarakat Perlindungan Indikasi Geogerafis (MPIG) Garam Bali.

Ketua MPIG Garam Bali, Nengah Suanda, mengatakan, minat warga kembali menjadi petani garam karena dibentuknya kelompok MPIG.

Mengingat hasil produksi petani garam akan dipasarkaan ke luar Bali dan hotel sekitar Karangasem, seperti di Jakarta, Tenggerang, Bandung, serta Jawa Timur.

Baca juga: Yasmine Wildblood Pernah Jadi Pelakor, Rasakan Kenyamanan saat Pacari Suami Orang

Baca juga: Diskop Tabanan Terima Laporan Satu Koperasi Kesulitan Dana Selama Pandemi

Baca juga: Jenderal Andika Perkasa Motivasi Marbot Masjid Hingga Lolos Taruna Akmil

"Dulu sebelum ada MPIG, petani garam di Amed hampir punah karena harga garam saat itu murah. Setelah dibentuknya MPIG ada beberapa warga kembali jadi petani garam. Awalnya hanya 18 orang yang mau kembali menjadi petani, setelah itu bertambah jumlahnya," ungkap Suanda, Jumat (30/10/2020).

Ditambahkan, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi warga kembali menjadi petani garam.

Pertama karena warisan leluhur. Sebagian warga tak ingin warisan leluhurnya sirna termakan pariwisata.

Apalagi garam di Desa Purwakerti sudah ada sejak Kerajaan Karangasem dan rasanya dikenal.

Faktor lain karena hasil penjualan garam sudah meningkat setelah dibentuk kelompok MPIG.

Sejak 2015, harga garam amed mulai naik di pasaran. Produksi dan kualitas meningkat.

Permusim, MPIG mampu menghasilkan puluhan kilo garam, melebihi permintaan pasar.

Baca juga: Truk Terguling di Desa Pengeragoan Pekutatan, Body Samping Rusak  

Baca juga: Verifikasi Penerimaan Hibah Pariwisata di Badung Mundur Sampai 4 November Mendatang

Baca juga: Angkat Potensi Lokal, Putri Koster Ingin Adakan Pameran Anggrek Bali

Pemasaran dan penjualan terus ditingkatkan.

"Dulu, petani garam hanya mampu menghasilkan sekitar 2 sampai 4 juta tiap musimnya. Sekarang, setelah dibantuknya Kelompok MPIG, petani garam mampu menghasilkan puluhan juta permusim, terhitung dari Agustus hingga Desember," kata I Nengah Suanda.

Kelompok MPIG terus berupaya menghidupkan kembali aktivitas bertani garam.

Mengajak masyarakat untuk tetap bertani garam.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved