Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Akibat Pandemi, Puluhan Penderita HIV/AIDS di Gianyar Putus Obat, Takut ke RS

Ketakutan terpapar Covid-19 di rumah sakit, rupanya dialami oleh pengidap HIV/AIDS.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Foto: Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Gianyar, Anak Agung Gde Agung Suardana 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Selama masa pandemi Covid-19, rumah sakit maupun puskesmas merupakan tempat yang paling dijauhi masyarakat, karena takut terpapar Covid-19.

Bahkan tak sedikit masyarakat yang ketika sakit hanya mengandalkan obat-obatan tradisional yang bisa dibuat di rumah atau obat generik di apotek.

Ketakutan terpapar Covid-19 di rumah sakit, rupanya dialami oleh pengidap HIV/AIDS.

Karena itu, tak sedikit penderita saat ini putus obat.

Baca juga: TES KEPRIBADIAN : Dari Gambar Ini Mana yang Kamu Tolong Pertama Kali? Sisi Rasionalmu Akan Terungkap

Baca juga: 5 Arti Mimpi Air Terjun yang Membawa Keberutungan Hingga Nasib Sial

Baca juga: Made Kara Belajar Topeng Secara Autodidak dan Dirikan Rumah Topeng untuk Belajar Gratis

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Gianyar, Rabu (4/11/2020), data komulatif atau total keseluruhan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Gianyar sebanyak 1.727 jiwa.

Total tersebut merupakan bagian dari penampakan kasus HIV/AIDS per Agustus 2020 sebanyak 77 kasus.

Dibandingkan penambahan tahun 2019 lalu, jumlah tahun ini jauh lebih sedikit.

Dimana tahun lalu, penambahan penderita sebanyak 170 jiwa.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Gianyar, Anak Agung Gde Agung Suardana mengatakan, tahun ini memang terjadi penurunan jumlah penderita HIV.

Namun hal tersebut belum bisa disyukuri.

Sebab adanya dugaan bahwa sedikitnya jumlah kasus tahun ini, karena kesulitan mendeteksi penderita.

Hal ini disebabkan selama masa pandemi, masyarakat tidak berani memeriksakan diri ke rumah sakit maupun puskesmas.

Terlebih lagi sebelum-sebelumnya, banyak rumah sakit dan puskesmas yang menutup unit pelayanannya karena terpapar Covid-19.

"Kemungkinan (terjadinya penurunan jumlah ini) karena masyarakat tidak berani tes semenjak pandemi, selain itu juga karena pelayanan terganggu akibat Covid, yakni puskesmas dan rumah sakit sampai ada yang tutup," katanya.

Ketakutan tersebut, kata dia, bukan hanya berdampak pada kesulitan dalam mendeteksi penderita.

Namun hal ini berdampak sangat jauh.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved