Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sektor Pertanian Anjlok Total, Akan Terjadi Konversi Sawah Besar-besaran di Bali?

NTP Bali yang berada di bawah 100, berarti menunjukkan dalam waktu singkat akan terjadi konversi sawah secara besar-besaran di Bali.

Tayang:
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Ilustrasi - Salah satu lokasi alih fungsi lahan dari sawah menjadi perumahan di Tabanan, Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Pulau Dewata sudah berada di bawah 100.

Itu berarti, sektor pertanian di Bali sudah anjlok total.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), Prof I Wayan Windia menuturkan, data itu juga mengindikasikan bahwa kondisi sub-sektor pertanian tanaman pangan yang berkait dengan eksistensi subak, dalam kondisi yang jauh lebih buruk.

"Nilai 100 dalam NTP menunjukkan pendapatan dan pengeluaran petani dalam kondisi pak-pok (seri). Kalau nilainya di bawah 100, artinya pengeluaran petani lebih tinggi dari penerimaannya. Lalu kalau dalam kondisi yang merugi, siapa yang tahan terus berada di sektor pertanian?," kata dia, Minggu (15/11/2020).

Prof Windia mengatakan pada tahun sebelumnya, NTP di Bali masih sedikit di atas 100, yakni di sekitar 104 karena tertolong oleh kinerja sub-sektor perikanan dan perkebunan.

"Saya tidak menemukan data bulan terakhir dalam siaran BPS Bali di internet. Tetapi saya pikir hingga saat ini tidak banyak berubah. Paling tidak, data NTP di Bali masih di bawah 100," kata Windia.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Wayan Windia dan akademisi Fakultas Hukum Unud, Anak Agung Gede Oka Parwata menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Wayan Windia dan akademisi Fakultas Hukum Unud, Anak Agung Gede Oka Parwata menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk "Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Apa Kabar?" di Kampus Unud Sudirman, Denpasar, Minggu (15/11/2020). Diskusi ini lahir atas kolaborasi antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian dengan BEM Fakultas Hukum Unud (Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana)

NTP Bali yang berada di bawah 100, berarti menunjukkan dalam waktu singkat akan terjadi konversi sawah secara besar-besaran di Bali.

Data terbaru dalam buku Bali Membangun menunjukkan, bahwa per tahun, rata-rata sawah berkurang di Bali kurang lebih 2.800 hektare dan aat ini sawah di Bali tinggal sekitar 69.000 hektare.

Di Bali sendiri, keberadaan sektor pertanian berkaitan erat dengan eksistensi subak.

Baca juga: 600 KK Petani Arak di Tri Eka Buana Karangasem Terancam Nganggur Jika RUU Larangan Minol Disahkan

Windia menegaskan, harus terus diingat bahwa tanpa ada sawah dan subak di Bali, jangan harap ada pembangunan ekonomi di Bali.

Dirinya mengutip pernyataan Sutawan (2005) yang menegaskan bahwa tanpa adanya sawah dan subak, maka kebudayaan Bali akan roboh.

"Tapi untunglah sektor pariwisata di Bali sedang macet total sehingga sawah di Bali dapat lebih diselamatkan. Tetapi, kalau kondisi seperti ini terjadi pada saat sebelum corona, maka sudah dipastikan kaum kapitalis sudah pesta pora memangsa lahan sawah di Bali," paparnya.

Banyak yang mengeluh nilai produk sektor pertanian saat ini sangat anjlok karena sektor pariwisata di Bali yang macet total.

Hal itu mengindikasikan bahwa sektor pertanian sangat tergantung dari sektor pariwisata. Tak hanya pertanian, semua sektor di Bali sangat tergantung dari sektor pariwisata.

Kata Windia, kalau sektor pariwisata sedang sakit flu, maka sektor lainnya paling tidak akan menderita batuk-batuk.

Baca juga: Pagi Habis Mandi Sudah Berkeringat Lagi, Ini Penjelasan BMKG Soal Cuaca Panas Beberapa Hari Terakhir

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved