Breaking News:

Pekaseh Subak Karang Dalem Bongkasa Diadili, Diduga Mengkorupsi Dana BKK 

Klian subak atau pekaseh Subak Karang Dalem, Desa Bongkasa Pertiwi, Abiansemal, Badung, periode 2015 hingga tahun 2020 ini diadili, karena diduga

Tribun Bali/Putu Candra
Tangkapan layar Subarman saat menjalani sidang perdana secara virtual. Ia diadili karena diduga melakukan tindak pidana korupsi dana BKK. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - I Made Subarman (47) telah menjalani sidang perdananya secara virtual.

Klian subak atau pekaseh Subak Karang Dalem, Desa Bongkasa Pertiwi, Abiansemal, Badung, periode 2015 hingga tahun 2020 ini diadili, karena diduga melakukan tindak pidana korupsi dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Bali 2015 - 2018.

Dalam perkara ini disebutkan atas perbuatan terdakwa negara mengalami kerugian sebesar Rp 183.164.000.

Dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan, jaksa memasang tiga dakwaan sebagaimana perbuatan Subarman.

Baca juga: Rossi Sesalkan Penurunan Performa Sang Adik, Ingatkan Wajib Menang Jika Inginkan Gelar Moto2 2020

Baca juga: Besi Pembatas Jembatan di Tukad Bangkung  Diperbaiki

Baca juga: Aturan Terbaru Mendikbud, Sekolah Tatap Muka Bisa Dibuka Januari 2021, Ini Syaratnya 

Dakwaan primair, perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 UU Tipikor juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Dakwaan subsidair, terdakwa dinilao melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 UU yang sama juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP. Pula dakwaan lebih subsidair, Pasal 9 juncto Pasal 18 UU yang sama juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

"Kami tidak mengajukan eksepsi, kami menerima semua dakwaan jaksa. Sidang selanjutnya adalah pembuktian, agendanya mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan jaksa penuntut," jelas Aji Silaban selaku anggota penasihat hukum terdakwa dari Pos Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar, saat dikonfirmasi, Jumat (20/11/2020). 

Baca juga: Ciptakan Startup dan E-Commerce, Badung Pasang Wifi Gratis di Pasar Tradisional dan Objek Wisata

Baca juga: Kecelakaan Maut di Kuta, Seorang Pengendara Motor Tewas Ditabrak Mobil

Baca juga: Harapkan Personel Bebas Covid-19, Waka Polres Badung Serahkan APD dari Kapolda Bali

Sementara itu, Jaksa Riki Saputra dalam dakwaannya mengungkapkan, modus yang digunakan terdakwa yaitu membuat laporan fiktif atau palsu.

Uang yang diduga dikorupsi digunakan terdakwa untuk kepentingan pribadi, seperti membiayai kebutuhan sehari-harinya. Uang juga digunakan membiayai anak sekolah.

Selain itu, uang digunakan terdakwa untuk membangun satu buah rumah bale adat di atas lahan pekarangan milik orang tuanya sebesar Rp 25 juta pada tahun 2017.

Baca juga: Dinilai Tak Efektif Kurangi Kebocoran PAD, KPK Tidak Rekomendasikan Pengadaan Tapping Box

Baca juga: Demi Meyakinkan Pihak Kepolisian, PT LIB Siap Pertontonkan Simulasi Pertandingan

Lebih lanjut terungkap, bahwa terdakwa diangkat menjadi pekaseh berdasar SK Bupati Badung tanggal 16 Februari 2016.

Tugas terdakwa mengurus air, pupuk, mengatur pola tanam, dan mengatur piodalan untuk pura yang ada di Subak Karang Dalem.

Terdakwa membuat LPJ fiktif tujuannya agar LPJ tersebut dapat diterima oleh desa maupun Pemprov Bali, seolah dana bantuan tersebut telah digunakan sesuai dengan RAB. Padahal, ada beberapa kegiatan tidak dilakukan terdakwa.

Terdakwa yang menerima dana BKK untuk Subak Karang Dalem sebesar Rp 300 juta dipergunakan sebagian untuk kegiatan subak dan dapat dipertanggungjawabakan dengan nilai Rp 116.836.000.

Sedangkan sisanya sebesar Rp 183.164.000 tidak dapat dipertanggungjawabkan, yang merupakan nilai kerugian negara/daerah. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved