Breaking News:

Serba serbi

Purnama Kanem, Penyucian Diri Lahir Batin, Hari Baik untuk Mapunia

Senin (30/11/2020) merupakan Purnama Kanem atau Purnama yang jatuh pada bulan keenam dalam sistem kalender Bali.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi bulan Purnama (Rizal Fanany) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Senin (30/11/2020) merupakan Purnama Kanem atau Purnama yang jatuh pada bulan keenam dalam sistem kalender Bali.

Hari Raya Purnama ini diperingati sebulan sekali yaitu saat bulan penuh atau sukla paksa. 

Dalam lontar Sundarigama dikatakan bahwa Purnama merupakan payogan Sang Hyang Candra. 

Terkait purnama ini disebutkan:

Baca juga: Dijuluki Ratu Penipu Hollywood Begini Sepak Terjang Hargobind Punjabi, WNI yang Kini Diburu FBI

Baca juga: Waspada Klaster Keluarga, Putri Koster Minta Anak Muda Lindungi Orangtua di Rumah

Baca juga: Hasil Lengkap Liga Italia - Lazio Takluk di Tangan Udinese, AC Milan Nyaman di Puncak Klasemen

Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga. 

Artinya:

Ada lagi hari penyucian diri bagi Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang juga disebut Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu saat tilem dan purnama.

Saat purnama adalah payogan Sang Hyang Wulan (Candra), sedangkan saat tilem Sang Hyang Surya yang beryoga.

Purnama juga merupakan hari penyucian diri lahir batin.

Oleh karena itu semua orang wajib melakukan penyucian diri secara lahir batin dengan mempersembahkan sesajen berupa canang wangi-wangi, canang yasa kepada para dewa, dan pemujaan dilakukan di Sanggah dan Parahyangan, yang kemudian dilanjutkan dengan memohon air suci.

Baca juga: BLT Karyawan Lanjut Ditransfer pada 2021,Ini 4 Bantuan Pemerintah yang Akan Diperpanjang Tahun Depan

Baca juga: Kasus Pencurian Diungkap Tim Opsnal Polsek Mengwi, Modus Pelaku Berpura-pura Mencari Pekerjaan

Baca juga: Kini Kaya Raya, Sosok Ini Bongkar Honor Fantastis Ayu Ting Ting Sekali Tampil Jadi Host

Lebih lanjut dalam lontar Sundarigama disebutkan:

Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi. 

Selain itu Purnama juga merupakan hari baik untuk melakukan dana punia.

Mengenai sedekah, disebutkan dalam Sarasamuscaya, 170 berbunyi:

Amatsaryam budrih prahurdanam dharma ca samyamam,

wasthitena nityam hi tyage tyasadyate subham.

Nihan tang dana ling sang Pandita, ikang si haywa kimburu,

Ikang si jenek ri kagawayaning dharmasadhana,

apan yan langgeng ika, nitya katemwaning hayu,

pada lawan phalaning tyagadana.

Artinya:

Yang disebut dana (sedekah) kata sang pandita, ialah sifat tidak dengki (iri hati), dan yang tahan berbuat kebajikan (dharma) sebab jika terus menerus begitu, senantiasa keselamatan akan diperolehnya, sama pahalanya dengan amal yang berlimpah-limpah.

Akan tetapi, menurut Ida bersedekah itu tidak usah memandang pahala, ada atau tidak yang penting laksanakan.

“Seperti yang dikatakan dalam Bhagawad Gita, tetap memberikan persembahan, lakukan kewajiban jangan mengharapkan phala. Ada atau tidak phala laksanakan saja,” tambah Ida Rsi.

Dalam petikan Bhagawad Gita, XVII. 25 juga disebutkan:

Tat ity anabhisanshaya

Phalam yajna-tapah-kriyah,

Dana-kriyas ca vividhah

Kriyante moksa-kansibhih

Yang artinya: dengan ucapak “Tat” dan tanpa mengharap-harap pahalan atas penyelenggaraan ucapan yajna, tapabrata dan juga dana punia yang berbagai macam jenisnya, dilaksanakan oleh mereka yang mengharapkan moksa. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved