Kendalikan Hama Tikus, Pemkab Gianyar Lepas 8 Ekor Celepuk

Bupati Gianyar, Made Mahayastra melepaskan delapan ekor celepuk atau burung hantu, Jumat (4/12/2020).

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Bupati Gianyar, Made Mahayastra saat melepaskan celepuk atau burung hantu, Jumat (4/12/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Bupati Gianyar, Made Mahayastra melepaskan delapan ekor celepuk atau burung hantu, Jumat (4/12/2020).

Hal ini dilakukan Pemkab Gianyar untuk merespons keluhan petani di Gianyar terkait hama tikus yang menyerang tanaman padi.

Dipilihnya celepuk ini, sebagai upaya pemerintah dalam mensosialisasikan kembali rantai makanan, artinya, pemusnahan hama tidak lagi hanya berpatokan pada obat-obatan kimia, tatapi dilakukan dengan menghidupkan kembali siklus rantai makanan.

Baca juga: Sedang Diproses, Bagus Kahfi Diperkirakan Berangkat ke Belanda Bulan Ini

Baca juga: Gereja Katedral Denpasar Putuskan Tak Tambah Kuota Dalam Ibadah Natal 2020, Maksimal 500 Orang

Baca juga: Bersiap Menjala Cuan Saat Window Dressing, SGB Bali Sarankan Tiga Produk Investasi Ini

“Yang paling aman dan bisa dilakukan untuk mengendalikan hama tikus yaitu dengan menjalankan kembali rantai makanan, setelah saya pelajari ternyata burung hantu jenis Tito Alba mampu memangsa 20 ekor tikus per hari,” ujarnya saat melepaskan 4 burung hantu di Kawasan Subak Taro Kelod, Tegallalang, Jumat (4/12/2020).

Mahayastra menekankan pentingnya menjaga lingkungan dalam arti yang luas seperti tanaman, saluran  air, dan semua satwa yang ada.

Karena jika salah satu saja yang hilang dalam siklus rantai makanan maka akan menjadi bencana.

Baca juga: Marc Marquez Jalani Operasi Ketiga, Diprediksi Butuh Waktu 6 Bulan Untuk Sembuh

Baca juga: Miliki Banyak Tanaman Hias Berharga Fantastis, Ketut Hartana Bagikan Tips Rawat Tanaman Hias

Baca juga: Seorang Balita di Bangli Terkonfirmasi Positif Covid-19 

“Satu  cara untuk merawat alam dengan menjaga keseimbangannya. Karena jika tidak seimbang, maka hama akan berkembang dan tentunya untuk membasmi hama akan dipergunakan alat yang sifatnya kimia dan modern yang akan semakin merusak alam. Maka dari itu saya tekankan pentingnya menjaga ekosistem atau lingkungan, jangan ada yang memburu” tegasnya.

Burung Hantu jenis Tito Alba yang dilepas di Subak Taro Kelod berjenis kelamin jantan dan betina masing masing 2 ekor.

Mahayastra juga melepas 2 ekor di Subak Tegalampit dan 2 ekor di Subak Tempekan Delod Sema Payangan.

Dengan harapan burung dapat memangsa tikus serta berkembang biak untuk menjaga siklus rantai makanan.

Baca juga: Viral di TikTok, Curhat Gadis Batal Nikah Padahal Persiapan Sudah 80 Persen, Undangan Siap Disebar

Baca juga: Kasus Curanmor di Denpasar Berhasil Diungkap, 1 Pelaku dan 2 Penadah Dibekuk Polisi

Baca juga: Ditangkap Edarkan 81 Butir Ekstasi dan 3 Paket Sabu, Vian dan Ossie Dituntut 14 Tahun Penjara

“Kalau ini bisa dikembangkan saya yakin siklus rantai makanan akan terjaga,  tidak sampai tikus menggerogoti pertanian.  Walaupun ada, dalam toleransi wajar,” imbuhnya.

Dilanjutkannya, sebagai kabupaten penghasil beras nomor 2 di Bali, Gianyar terus berkomitmen menjaga lahan pertanian yang ada.

Dengan luas lahan pertanian sekitar 9-11 ribu hektar, Gianyar mampu berkontribusi terhadap ketahanan pangan Bali dengan menyumbang 40 ribu ton gabah.

Baca juga: 24 Warga Terjaring Operasi Yustisi di Kelurahan Panjer Denpasar

Baca juga: 24 Warga Terjaring Operasi Yustisi di Kelurahan Panjer Denpasar

Di samping itu, Gianyar sebagai kabupaten berbasis pertanian sudah sepantasnya menjaga lahan pertanian yang ada serta menjaga kelangsungan sektor  pertanian.

Apalagi pariwisata Gianyar merupakan pariwisata berbasiskan adat dan pertanian.

Artinya dengan menjaga keseimbangan alam beserta isinya, kita mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian di samping sebagai penopang keberlangsungan sektor pariwisata sabagai sumber pendapatan asli daerah. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved