Benarkah Perokok Dapat Beresiko Timbulkan Gejala Berat Pada Covid-19 ? Begini Penjelasannya
Merokok merupakan salah satu faktor utama dari penyebabnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, dan Kanker.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Ternyata reseptor yang ada dalam paru-paru tersebut pada perokok jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.
Hal tersebut dikarenakan terdapat banyak radikal bebas yang tersebar di paru-paru dalam waktu yang lama.
Yang akhirnya menyebabkan radang hingga menambah jumlah dari reseptor tersebut.
Dikarenakan jumlah dari reseptor atau penerima cukup banyak maka dengan jumlah virus yang sedikit terhirup akan ditangkap langsung oleh reseptor ini dan menyebabkan virus di dalam tubuh dapat berkembang biak.
"Selain itu terdapat penurunan dari sistem imun yang ada di dalam saluran pernafasan. Jadi di dalam saluran pernafasan kita terdapat sistem pertahanan tubuh yang berada di sekitar rongga pernafasan. dan dikarenakan proses peradangan pada paru-paru yang disebabkan oleh asap rokok berlangsung cukup lama sebelumnya dan sistem kekebalan tubuh yang menolak virus untuk masuk ini berkurang," jelasnya.
Hal tersebutlah yang mengakibatkan virus yang sudah masuk ke dalam tubuh susah untuk dikeluarkan lagi.
Bahkan ketika kita sedang bersin pun itu termasuk dalam mekanisme pertahanan tubuh.
Salah satu contoh sederhananya adalah ketika kita tidak terbiasa merokok lalu diberikan rokok satu batang saja, maka kita akan merasakan batuk-batuk hingga bersin nah itulah yang dimaksud mekanisme tubuh menolak dari asap rokok tersebut.
"Namun ketika kita sudah terbiasa merokok maka mekanisme sistem kekebalan pernapasan tersebut akan berkurang. Begitu juga dengan ketika respon tubuh tersebut sudah berkurang, ketika benda asing masuk ke tubuh daya tolak tubuh akan berkurang. Sehingga akan terakumulasi pada saluran pernafasan dan mempermudah terjadinya infeksi," tuturnya.
Selain itu, orang yang merokok cenderung menyentuh area yang ada pada wajah seperti mulut, hidung, dan mata sehingga memudahkan infeksi masuk melalui kontak tangan.
Dan orang yang merokok lebih sering membuka maskernya.
Seperti biasanya saat mengobrol sambil merokok Ia membuka maskernya.
Hal-hal tersebutlah yang dapat meningkatkan penularan secara langsung melalui sistem pernapasan.
Dan penyebab yang terakhir merokok merupakan faktor risiko penyebab penyakit tidak menular seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes dan kanker.
Dimana semua penyakit-penyakit tersebut dapat menurunkan sistem kekebalan dari tubuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-rokok-di-asbak.jpg)