Dipanggil Satpol PP Denpasar, Orangtua yang Mempekerjakan Pengasong Cilik Mangkir

Satpol PP Kota Denpasar telah memanggil orangtua dari yang mempekerjakan anak berjualan asongan di pinggir-pinggir jalan

Istimewa
Gepeng dan pengasong anak yang ditangkap Satpol PP di Kota Denpasar, Kamis (10/12/2020). 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP) Kota Denpasar telah memanggil orangtua yang mempekerjakan anak berjualan asongan di pinggir-pinggir jalan guna mendalami kasus maraknya pengasong cilik di Kota Denpasar, Bali.

Namun orangtua dari anak tersebut mangkir atau belum memenuhi panggilan Satpol PP untuk pemeriksaan.

"Ada orangtuanya yang mempekerjakan anaknya juga belum memenuhi panggilan, masih mangkir," kata Kepala Satpol PP Kota Denpasar, Dewa Gede Anom Sayoga, saat dikonfirmasi Tribun Bali, Jumat (18/12/2020).

Sementara, terkait oknum lain di luar orangtua yang sengaja mempekerjakan seorang anak kemudian diantar jemput ke pusat-pusat keramaian, Dewa menjelaskan, saat diinterogasi terakhir anak-anak masih takut untuk menyebutkan orangnya.

Baca juga: Kasus Kematian Bertambah Satu Orang di Bangli, 8 Warga Terkonfirmasi Positif Covid-19

Baca juga: Syarat Masuk Bali Lewat Udara Dilonggarkan, Pemberlakuan SE Gubernur Mundur Jadi 19 Desember

Baca juga: Merasa Sudah Sepuh, Amien Rais Tak Ikut Aksi 1812 di Istana Negara

"Anak-anak ketakutan untuk mengungkapkannya walaupun ada pengakuan dipaksa, diantar jemput, tapi identitas belum terlacak," ujarnya.

"Sedangkan dari 3 anak yang kami amankan waktu itu, ada yang orangtuanya mempekerjakan langsung memerintahkan anaknya untuk berjualan mengasong, sampai saat ini belum memenuhi panggilan untuk pemeriksaan," jabarnya.

Satpol PP Denpasar menyiapkan upaya Tindak Pidana Ringan (Tipiring) apabila orangtua tersebut terbukti melanggar peraturan daerah (Perda) No.1 Tahun 2015 tentang Ketertiban Umum.

"Kami akan tipiringkan karena melanggar Perda, kan dalam Perda ada katagorinya, menyuruh, menyiapkan, namun sampai saat ini belum memenuhi pemeriksaan," bebernya.

Adapun hal ini dilakukan Satpol PP setelah diamankannya sejumlah gelandang pengemis dan pengasong anak dari sudut-sudut Kota Denpasar.

Satpol PP baru saja mengamankan pengasong cilik di simpang empat Tohpati - Gatsu Barat dan Pasar Badung pada Kamis (10/12/2020), dan sempat diamankan di ruang binaan.

Para pengasong cilik itu ada yang tertangkap tengah berjualan sendiri dan ada pula yang tertangkap bersama orangtuanya.

Pengasong cilik itu terlihat menitikkan air mata saat ditanya oleh petugas, ia mengaku dipaksa oleh seseorang.

"Pengasong cilik ini ada yang bersama orangtuanya sekaligus dimanfaatkan untuk meng gepeng sambil ngasong. Ada yang sendiri-sendiri ini sedang didalami pengakuannya, ada indikasi yang mengkoordinir antar jemput," katanya.

Menurut Dewa, keberadaan gelandang pengemis dan pengasong cilik ini melanggar peraturan daerah no.1 tahun 2015 tentang ketertiban umum sehingga patut ditindak.

"Sedang kami dalami pemeriksaan agar bisa mengungkap siapa cukongnya itu oleh penyidik. Apa yang dilakukan itu melanggar Perda Ketertiban Umum Perda No. 1 Tahun 2015," jelasnya.

"Saat diperiksa dia sambil menangis mengaku dipaksa orang diantar jemput, di lepas di beberapa tempat keramaian di simpang jalan ada yang di pasar," pungkas Dewa.

Untuk selanjutnya, terkait pengasong anak, Satpol PP masih koordinasi dengan Dinas Sosial maupun ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

(*).

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved