Berita Gianyar
Ajik Krisna Tanggapi Bali Terapkan Prokes Ketat PPDN, Begini Kunjungan di Krisna Oleh-oleh Saba
Ajik Krisna: Meski ada aturan baru itu wisatawan tetap ada ke sini dari luar Bali, rata-rata mereka dengan menempuh jalur darat.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
"Meski ada aturan baru itu wisatawan tetap ada ke sini dari luar Bali, rata-rata mereka dengan menempuh jalur darat. Saya sangat setuju dengan aturan dan imbauan dari pemerintah, sebab kesehatan sangatlah penting. Mari kita taati aturan pemerintah, supaya Bali bisa segera normal, dan perekonomian pun bisa segera pulih," tandasnya.
Ajik Krisna mengantakan, pengunjung tidak usah ragu saat akan berbelanja ke Krisna Oleh-oleh.
Sebab fasilitas protokol kesehatan telah disiapkan, dan diterapkan secara ketat.
Strategi Bisnis Ajik Krisna Bangkit dari Pandemi Covid-19
Wabah pandemi Covid-19 mengancam seluruh sektor perekonomian tanpa pandang bulu.
Tak terkecuali Krisna Oleh-oleh Bali, sebagai salah satu pusat oleh-oleh terbesar di Bali turut terkena imbasnya.
Owner Krisna Oleh-oleh Bali, I Gusti Ngurah Anom atau lebih dikenal dengan nama Ajik Krisna mengatakan, ia menutup seluruh cabang Krisna Oleh-oleh Bali sejak Maret lalu dan mulai beroperasi kembali pada Senin (22/6/2020) lalu.
Sementara itu, dari total keseluruhan karyawan, sebanyak 2.000 karyawan terpaksa dirumahkan dan 500 karyawan masih dipekerjakan.
"Kami tutup sebelum Hari Raya Nyepi, bulan Maret lalu. Karena Corona kan awalnya ada di China, lalu saya fikir tidak bakalan sampai ke sini kan. Ternyata Maret sampai di Bali. Akhirnya kami tutup selama 3 bulan," jelas Ajik Krisna kepada Tribun Bali, Jumat (26/6/2020).
Di sisi lain, Ajik Krisna mengatakan, harus tetap membayar sejumlah tagihan seperti untuk listrik dan lain sebagainya sebanyak 2,5 miliar per bulan tanpa income.
Hal tersebut membuatnya harus memutar otak mencari sumber penghasilan lainnya untuk menutupi biaya yang harus tetap dibayarkan tersebut.
Hingga akhirnya, Ajik Krisna memutuskan pulang ke kampung halaman pada awal Mei lalu.
Dan memilih mulai sumber penghasilan lainnya di sektor pertanian dengan memanfaatkan lahan miliknya yang belum digarap.
"Kalau gak gerak bahaya ke depan. Saya putuskan awal Mei pulang kampung. Kemudian survey lahan yang saya miliki. Lahan tersebut memang belum digarap. Akhirnya saya putuskan dari 25 hektar lahan itu, 7 hektar mulai saya garap lalu ditanami kacang tanah," ujarnya.
Sementara, sisa lahan tersebut akan kembali digarap pada Juli mendatang untuk kembali ditanami kacang tanah, ubi, pepaya, dan pisang.