Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Rahina Purnama Dalam Agama Hindu Diyakini Baik untuk Malukat

Memang dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, hari purnama adalah satu diantara hari baik untuk malukat.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/A A Seri Kusniarti
Suasana sembahyang dan malukat di Pura Dalem Pangembak Sanur, Selasa (29/12/2020) 

Laporan Wartwan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Hari ini, Selasa (29/12/2020) bertepatan dengan purnama kapitu, adalah satu diantara hari suci dalam Agama Hindu di Bali.

Sehingga dianggap baik untuk melakukan tirta yatra, malukat, dan sembahyang baik di pura maupun di rumah masing-masing.

Terlihat di Pura Dalem Pangembak, Mertasari Sanur, banyak pamedek yang datang malukat.

Mulai dari anak kecil, hingga lansia datang membersihkan diri dengan air suci.

Baca juga: Purnama Kanem, Penyucian Diri Lahir Batin, Hari Baik untuk Mapunia

Memang dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, hari purnama adalah satu diantara hari baik untuk malukat.

Hal ini diamini Jro Mangku Ketut Maliarsa.

Rahina suci ini disebut rahinan suci rwa bhineda antara purnama dan tilem. Purnama adalah saat beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa sebagai Dewa Chandra atau Dewi Bulan,” sebutnya kepada Tribun Bali.

Sedangkan pada saat tilem, kata dia, beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifetasi Dewa Surya atau Dewa matahari.

“Apa makna purnama kapitu, adalah bulan suci yang terang benderang untuk pabersihan angga sarira (stula sarira), suksma sarira dalam pembersihan lahir batin,” sebutnya.

Menurut lontar Siwa Gama, bahwa purnama kapitu  adalah hari baik untuk dewasa ayu sarwa karya utawi meyadnya.

Kapitu mengacu pada sasih kapitu kalender Bali, bulan Juli atau bulan ketujuh perhitungan kalender masehi, yang dimaknai dimohonkan ‘kapituhu’ atau sungguh-sungguh melaksanakan ajaran kebenaran.

Atau ajaran agama agar memperoleh ‘kerahayuan lan karahajengan’ atau keselamatan.

 “Umat bisa menghaturkan canang asebit sari sebagai bukti bakti pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan manifestasinya sehingga memperoleh wara nugraha,” sebutnya.

Kemudian menghaturkan penyomya kepada bhuta kala di natar sanggah, natah paumahan, dan di pintu keluar-masuk atau disebut lebuh.

Baca juga: Tumpek Krulut Bertepatan dengan Purnama Kalima, Apa Persembahan yang Dihaturkan?

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved