Ini Kata Sosiolog Tentang Kehebohan Mbak You dan Ramal Meramal di Era Modern
Kabar terakhir menyebutkan, ada pihak-pihak yang berencana untuk melaporkan Mbak You ke kepolisian, karena ramalan-ramalannya dianggap memicu keresah
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Publik kini sedang disuguhkan ramainya pemberitaan di jagat maya mengenai ramalan-ramalan dari sosok paranormal yang dipanggil Mbak You.
Diberitakan bahwa dalam terawangannya, di tahun 2021 Mbak You meramalkan mulai dari terjadinya bencana alam, kecelakaan pesawat bahkan terjadinya kerusuhan hingga lengsernya presiden.
Kabar terakhir menyebutkan, ada pihak-pihak yang berencana untuk melaporkan Mbak You ke kepolisian, karena ramalan-ramalannya dianggap memicu keresahan.
Salah-satu yang disebut-sebut berencana melaporkan Mbak You adalah CEO lembaga Cyber Indonesia, Muannas Alaidid.
Mengapa urusan ramal-meramal yang dianggap sebagai tidak ilimiah bahkan klenik, cukup mampu menyedot perhatian publik ketika dalam suatu era yang ditandai oleh pesatnya kecanggihan teknologi informatika (TI) dan telekomunikasi?
Baca juga: Ramalan Mbak You Soal Jokowi Ini Berbuntut, Muannas Alaidid Berencana Laporkan ke Polisi
Dalam wawancara eksklusif dengan Tribun Bali, pakar sosiologi (sosiolog) Universitas Udayana (Unud) Bali, Wahyu Budi Nugroho S.Sos MA, menjelaskan bahwa pada prinsipnya, secara sosiologis setiap individu maupun masyarakat adalah rasional.
"Namun demikian, rasionalitas-nya tipe yang mana dulu? Sebab, ada beberapa tipe rasionalitas. Setidaknya terdapat lima tipe rasionalitas," ucap dosen sosiologi itu mengawali pembicaraannya pada Selasa 19 Januari 2021.
Wahyu menjelaskan, rasionalitas dibagi ke dalam lima tipe. Tipe-tipe itu ialah pertama, rasionalitas formal. Itu merupakan pola pikir yang didasarkan pada kalkulasi untung/rugi, atau pola pikir yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmu pengetahuan modern seperti objektif, terukur, dan lain sebagainya yang sejenis.
Kedua, tipe rasionalitas instrumental, yakni pola pikir yang didasarkan pada kalkulasi upaya untuk mencapai tujuan seefisien dan seefektif mungkin.
Contoh rasionalitas instrumental, ungkap Wahyu, yakni menjadi lebih efisien dan efektif bepergian dengan menggunakan kendaraan bermotor daripada dengan berjalan kaki.
Tipe ketiga, rasionalitas nilai, yaitu rasionalitas yang didasarkan pada sesuatu yang dianggap baik, benar, dan diharapkan keterwujudannya dalam kehidupan sosial.
Wahyu memberi contoh, anak yang berpamitan dan menyalami orangtua sebelum berangkat sekolah, atau seseorang yang membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan; tindakan-tindakan itu didasarkan pada rasionalitas nilai.
Tipe keempat ialah rasionalitas tradisional, yakni rasionalitas yang didasarkan pada pola perilaku yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Wahyu, seseorang atau masyarakat yang masih melakukan ritual adat atau tradisional adalah contoh pola pikir rasionalitas tradisional.
Kelima adalah tipe rasionalitas afektif, yang merupakan rasionalitas yang didasarkan pada emosi atau perasaan.