Wawancara Khusus
PPKM di Bali Belum Efektif Tekan Penyebaran Covid-19
Wawancara Khusus dengan Kepala Dinas Kesehatan Bali, dr. Ketut Suarjaya, PPKM di Bali Belum Efektif Tekan Penyebaran Covid-19
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Dari kluster keluarga bergerak ke kluster perkantoran.
Ini terus berputar dan membuat saat ini banyak satu keluarga yang positif Covid-19.
Setelah ditemukan kasus positif, selanjutnya pihak Satgas melakukan tracing dengan kontak erat sehingga jumlah kasus terus bertambah.
Intinya penambahan kasus ini terjadi berawal dari kluster upacara adat dan keluarga.
Apakah dengan lonjakan kasus ini, PPKM dipandang efektif menekan penyebaran kasus Covid? Kira-kira apa yang masih perlu ditingkatkan?
Saya belum melihat PPKM ini efektif untuk menekan penyebaran virus Covid-19.
Kerumunan tetap terjadi misalkan pada restoran, ketika masuk restorannya penuh, masuk mall juga penuh.
Karenanya kita mengimbau kepada masyarakat agar lebih mentaati peraturan PPKM untuk mencegah penyebaran transmisi Covid-19.
Saya berharap pada masyarakat agar lebih mentaati peraturan PPKM dan tentu saja ini sangat perlu kesadaran bersama.
Pemerintah akan memperpanjang PPKM Jawa-Bali sampai 8 Februari, karena salah satu alasannya selama dua pekan ini dianggap belum maksimal. Bagaimana komentar Bapak?
Semoga dengan memperpanjang PPKM hingga 8 Februari kasus positif Covid-19 dapat turun, khususnya pada Provinsi Bali.
Kalau PPKM diterapkan dengan disiplin, kasus positif Covid-19 pasti akan turun.
Terkait vaksin, Bali kembali mendapat tambahan vaksin dari pusat. Berapa banyak dan bagaimana distribusinya?
Dinas Kesehatan Provinsi Bali kembali terima vaksin Covid-19 jenis Sinovac dari Biofarma melalui jalur udara pada hari ini, Jumat 22 Januari 2021.
Vaksin tiba pukul 10.00 Wita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kepala-dinas-kesehatan-provinsi-bali-ketut-suarjaya-memberikan-keterangan.jpg)