Corona di Indonesia

Deteksi Virus Corona Lewat Bau Ketiak, Ini Alat Baru Temuan ITS Surabaya

Dengan alat ini deteksi terhadap Covid-19 bisa dilakukan dengan memakai sampel bau ketiak.

Editor: Kander Turnip
shutterstock
Ilustrasi tes Covid-19, deteksi Covid-19, pengujian virus corona. 

Deteksi Virus Corona Lewat Bau Ketiak, Ini Alat Baru Temuan ITS Surabaya

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Teknologi untuk mendeteksi apakah seseorang terpapar Covid-19 (virus Corona) kini kian beragam.

Mulai dari PCR swab, menggunakan perangkat tes rapid antigen yang diciptakan oleh Universitas Padjadjaran ( Unpad), hingga lewat sampel embusan napas yang kemudian dideteksi dengan alat bernama GeNose temuan peneliti Universitas Gadjah Mada ( UGM) Yogyakarta.

Selain itu, kini ada pula alat bernama i-nose c-19.

Dengan alat ini deteksi terhadap Covid-19 bisa dilakukan dengan memakai sampel bau ketiak.

Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan, i-nose c-19 ini merupakan inovasi dari para ilmuwan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Alat ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

"I-nose dari ITS alat pendeteksi melalui sampel bau ketiak yang diproses dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence,” kata Bambang pada Rapat Koordinasi Riset dan Inovasi Nasional Tahun 2021 di Graha Widya Bhakti Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis 28 Januari 2021.

Selain UGM dan ITS yang mengembangkan GeNose dan i-nose c-19, sejumlah lembaga dan perguruan tinggi kini juga terus melakukan pengembangan teknologi yang terkait dengan penanganan Covid-19.

Cegah Klaster Baru Tempat Kerja, 3 Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Deteksi Corona di Lingkungan Industri

Penemuan UGM, Alat Deteksi Covid-19 Hanya Lewat Embusan Napas Bernama Ge-Nose C19

Penemuan-penemuan ini dikembangkan dalam konsorsium Covid-19 yang berguna untuk mendorong hasil inovasi anak bangsa.

”Berbagai produk hasil riset dan inovasi konsorsium Covid-19 terus dikembangkan dengan mempertimbangkan 4T. Testing, tracing, tracking, dan treatment. Dilakukan dengan sistemik,” ucap Bambang.

Terkait i-nose c-19, temuan ini diklaim menjadi alat pertama di dunia yang mampu mendeteksi Covid-19 melalui bau keringat ketiak.

Alat ini merupakan hasil pengembangan yang dilakukan oleh Guru Besar Departemen Teknik Informatika ITS, Riyanarto Sarno.

Memanfaatkan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, sampel dari bau keringat ketiak seseorang dapat diproses dan diketahui hasilnya lewat i-nose c-19.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved