Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Soal Usulan Bagi-bagi Bibit Babi Gratis di Bali Karena Langka, PHMI: Lebih Baik BLT untuk Peternak

Sekretaris PHMI Putu Ria Wijayanti mengatakan, pembagian bibit babi gratis harus dikaji dari sisi efisiensi, usulan pembagian bibit gratis dirasa

Tayang:
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Sekretaris PHMI Putu Ria Wijayanti sedang berada kandang ternak babi, di Bali, pada Selasa 2 Februari 2021 

Ia meminta Gubernur Bali melalui Dinas Petrtanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali merancang program untuk menyiapkan dan memberikan bibit babi ke para peternak

“Jadi kenaikan harga babi itu tidak lepas dari kelangkaan stok, karena sebelumnya terjadi wabah penyakit babi itu, untuk itu kami berharap segera pemerintah, Gubernur melalui dinas peternakan ini merancang sebuah program yang memberikan dan menyiapkan bibit kepada para peternak, terutama usaha ternak babi di masyarakat,” katanya, Senin 1 februari 2021.

Selain itu, Ketua DPD I Golkar Bali ini menyebut jika pemerintah sigap dalam penaggulangan wabah tersebut.

Pasalnya, menurut dirinya Pemerintah dinilai kurang sigap dalam penanggulangan wabah tersebut.

“Disamping itu juga upaya penanggulangan ini juga, penanggulangan wabah itu agar segera diantisipasi,” terangnya.

Bahkan, ia menyebut akan memperjuangkan di APBD Perubahan 2021 agar terkait program penyediaan bibit tersebut.

“Ya itu saya dorong di anggaran perubahan, untuk menyiapkan program itu, saya banyak mendapat aduan dari para peternak babi di bawah,” ucapnya.

Seperti diberitakan, populasi babi Bali menurun hingga 42,31 persen.

Hal ini dikarenakan babi Bali sempat mengalami suspect African Swine Fever (ASF).

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Anak Agung Istri Intan Wiradewi mengatakan, populasi babi pada tahun 2019 mencapai 690.378 ekor.

Jumlah babi kemudian turun menjadi 398.291 ekor pada tahun berikutnya.

"Populasi babi kita memang menurun. Menurun dari tahun 2019 ke 2020 itu menurun 42 persen.

Kenapa, karena dari akhir tahun 2019 ke 2020 kemarin ada wabah penyakit yang menyebabkan babi itu menurun," kata Intan saat ditemui di kantornya, Senin 1 Februari 2021.

Menurutnya, penurunan populasi babi ini sebagian memang mati karena terserang ASF dan sebagian lagi dijual cepat oleh para peternak.

Para peternak menjual babinya lebih cepat dikarenakan takut mati sehingga dapat menyebabkan kerugian yang lebih banyak.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved