Paus Fransiskus Panjatkan Doa dan Serukan Solidaritas Rakyat Myanmar
Pemimpin Takhta Suci berusia 84 tahun itu memanjatkan doa dari balkon yang menghadap Lapangan Santi Petrus Vatikan setelah membacakan doa Angelus.
" Internet sudah mati tapi kami tidak akan berhenti bersuara," tulis akun Twitter bernama Maw Htun Aung.
"Ayo berjuang dengan damai untuk demokrasi dan kebebasan. Ayo berjuang sampai menit terakhir demi masa depan kita," lanjutnya dalam twit yang dikutip Reuters.
Ormas sipil Myanmar mengimbau penyedia jaringan internet dan seluler menolak perintah militer.
"Dengan mematuhi perintah mereka, perusahaan Anda pada dasarnya melegitimasi otoritas militer, padahal ada kecaman internasional terhadap mereka," kata ormas dalam pernyataannya.
Telenor mengatakan, sebelum mematikan internet mereka secara hukum wajib mengikuti perintah untuk memblokir beberapa media sosial.
Namun, mereka juga menyadari perintah itu bertentangan dengan hukum hak asasi manusia (HAM).
Setelah memblokir Facebook, pemerintahan militer Myanmar pada hari Jumat 5 Februari 2021 memblokir akses masyarakat ke Twitter dan Instagram.
Ini merupakan langkah terbaru militer Myanmar untuk membungkam masyarakat. Facebook sudah lebih dahulu diblokir pada Rabu 3 Februari 2021.
Militer memblokir Twitter setelah pada Kamis 4 Februari 2021 warga Myanmar menyebarkan jutaan tagar dan ciutan melawan kudeta militer.
Yang menjadi trending topik kala itu yakni tagar seperti #WeNeedDemocracy dan #FreedomForFear yang diambil dari kutipan terkenal Aung San Suu Kyi.
Di sisi lain, gerakan pembangkangan sipil di Myanmar juga meningkat pesat secara online.
Gerakan itu mengajak publik untuk menyuarakan perlawanan setiap malam dengan membunyikan teko atau alat-alat lainnya guna menunjukkan kemarahan.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul Paus Fransiskus Angkat Bicara soal Kudeta Myanmar dan Panjatkan Doa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/paus-fransiskus_20171218_143134.jpg)