Paus Fransiskus Panjatkan Doa dan Serukan Solidaritas Rakyat Myanmar

Pemimpin Takhta Suci berusia 84 tahun itu memanjatkan doa dari balkon yang menghadap Lapangan Santi Petrus Vatikan setelah membacakan doa Angelus.

Editor: DionDBPutra
(Chatolic.org)
Paus Fransiskus memanjatkan doa bagi mereka yang berkuasa di Myanmar agar bekerja demi kebaikan bersama serta menyerukan solidaritas antarsesama rakyat Myanmar. 

TRIBUN-BALI.COM, VATICAN CITY - Pemimpin umat Katolik sedunia Paus Fransiskus memanjatkan doa bagi mereka yang berkuasa di Myanmar agar bekerja demi kebaikan bersama.

Paus Fransiskus juga menyerukan solidaritas antarsesama rakyat Myanmar.

"Saya berdoa agar mereka yang berkuasa di negara itu akan bekerja... menuju kebaikan bersama," kata Sri Paus dikutip dari AFP.

Pemimpin Takhta Suci berusia 84 tahun itu memanjatkan doa dari balkon yang menghadap Lapangan Santi Petrus, setelah membacakan doa Angelus, Minggu malam waktu setempat 7 Februari 2021.

Paus Fransiskus Harus Berhenti Makan Pasta karena Sakit Punggung Sangat Menyiksanya

Paus Fransiskus ke Irak Bulan Maret Bertemu Ulama Syiah dan Kunjungi Tempat Kelahiran Nabi Ibrahim

Paus asal Argentina tersebut mendesak militer Myanmar hidup berdampingan secara demokratis.

Kudeta militer Myanmar 1 Februari 2021 mulai menui aksi demo besar-besaran di sejumlah kota di negeri yang dulu bernama Burma tersebut.

Paus Fransiskus menyampaikan pesannya saat puluhan ribu pedemo menyerbu Yangon, dalam aksi unjuk rasa yang dilukiskan sebagai yang terbesar di Myanmar sejak 2007.

Paus Fransiskus yang mengunjungi Myanmar tahun 2017, menyuarakan keadilan sosial, stabilitas nasional, dan koeksistensi demokrasi yang harmonis.

Aksi Terbesar sejak 2007

Sementara itu puluhan ribu warga Myanmar turun ke jalan-jalan pada hari kedua demonstrasi di Yangon, Minggu 7 Februari 2021.

Aksi unjuk rasa terjadi kota terbesar Myanmar, Yangon, serta daerah-daerah lain di seluruh negeri untuk menentang kudeta militer serta penahanan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi.

Demonstrasi tetap berjalan meskipun militer sudah mematikan akses internet dan saluran telepon yang sangat terbatas.

Reuters mewartakan, ini adalah demo terbesar di Myanmar sejak Revolusi Saffron yang dipimpin biksu Buddha tahun 2007.

Massa di Yangon ibu kota perekonomian Myanmar, membawa balon merah sesuai warna partai National League for Democracy (NLD)-nya Suu Kyi.

Mereka berteriak, "Kami tidak mau kediktatoran militer! Kami ingin demokrasi!"

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved