Breaking News:

Aksi Demo Melawan Kudeta Mulai Memanas, Polisi Myanmar Lepaskan Peluru Melukai 3 Orang

Kendati militer memberi peringatan keras, aksi demo melawan kudeta Myanmar terus berlangsung. Masa turun ke jalan-jalan.

Editor: DionDBPutra
STINGER/AFP
Tentara berjaga di jalan yang diblokade menuju gedung parlemen Myanmar di Naypyidaw pada 1 Februari 2021, setelah militer menahan pemimpin de facto negara itu Aung San Suu Kyi dan presiden negara itu dalam sebuah kudeta. 

TRIBUN-BALI.COM, NAYPYIDAW - Aksi demonstrasi melawan kudeta militer di Myanmar mulai memanas memasuki hari keempat.

Dmei mengendalikan situasi polisi menembakkan peluru karet ke arah demonstran anti-kudeta di ibu kota Myanmar pada hari Selasa 9 Februari 2021.

Kendati militer memberi peringatan keras, aksi demo melawan kudeta Myanmar terus berlangsung. Masa turun ke jalan-jalan.

Di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, kota yang dibangun khusus rezim militer sebelumnya, saksi mata melihat polisi menembakkan peluru karet ke demonstran setelah menyemprot mereka dengan water cannon atau meriam air.

"Mereka melepaskan tembakan peringatan dua kali, kemudian menembak (ke arah pengunjuk rasa) dengan peluru karet," kata saksi mata kepada jurnalis kantor berita AFP.

Paus Fransiskus Panjatkan Doa dan Serukan Solidaritas Rakyat Myanmar

Militer Matikan Internet Seluruh Myanmar Karena Demo Melawan Kudeta Meluas

Aung San Suu Kyi Dituntut Militer Myanmar atas Kepemilikan Walkie Talkie

Sejumlah orang dilaporkan mengalami luka-luka. Kantor berita Reuters mewartakan, sebuah klinik di Kota Naypyidaw merawat tiga orang yang terluka akibat tembakan peluru karet.

Dokter yang merawat mereka menjelaskan, klinik tersebut memberikan perawatan pertama sebelum para pasien yang terluka di kepala dibawa ke rumah sakit terdekat.

Wartawan AFP di lapangan mengonfirmasi ada suara tembakan yang dilepaskan. Setelah ratusan ribu orang turun ke jalan menentang kudeta 1 Februari lalu, pemimpin militer Jenderal Min Aun Hlaing berpidato di televisi pada Senin malam 8 Februari 2021 guna membenarkan perebutan kekuasaan itu.

Militer Myanmar kini melarang perkumpulan lebih dari lima orang di Yangon, ibu kota komersial negara, serta Naypyidaw dan daerah-daerah lainnya yang dilanda demonstrasi.

Mereka membelakukan jam malam di lokasi-lokasi utama pecahnya unjuk rasa.

Para pedemo membawa papan bertuliskan, "Kami ingin pemimpin kami" mengacu pada Aung San Suu Kyi yang ditahan militer, serta "Jangan ada kediktatoran".

Sejumlah guru ikut berdemo di San Chaung Yangon, mengacungkan salam tiga jari yang menjadi simbol unjuk rasa anti-kudeta.

"Kami tidak peduli dengan peringatan mereka. Itu sebabnya kami keluar hari ini. Kami tak bisa menerima alasan mereka untuk kecurangan pemilu. Kami tidak mau ada kediktatoran militer," ujar guru Thein Win Soe kepada AFP.

Janji Militer Myanmar

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved