Imlek 2021

Jro Gede Kuning Bangun Kelenteng Sing Bie di Denpasar Bali, Setiap Saraswati Dilaksanakan Odalan

Jro Gede Kuning yang mendirikan Kelenteng Sing Bie. Di Kelenteng ini menganut ajaran Siwa Budha yang sangat kental dengan budaya Bali-nya.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Jro Sung Arsini melakukan pembersihan Wihara Sing Bie Bio, Jalan Kartini, Denpasar, Rabu 10 Februari 2021. Wihara Sing Bie Bio merupakan salah satu wihara yang ada di pusat perekonomian atau pecinan di kota Denpasar - Jro Gede Kuning Bangun Kelenteng Sing Bie di Denpasar Bali, Setiap Saraswati Dilaksanakan Odalan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - HINGGA kini, sudah enam generasi keluarga Sujadi Prasetio atau Tio Sing Khoei menetap di Kawasan Jalan Gajah Mada, Denpasar, Bali.

Tio merupakan generasi kedua.

Tio memiliki seorang menantu bernama Jro Gede Kuning yang mendirikan Kelenteng Sing Bie.

Di Kelenteng ini menganut ajaran Siwa Budha yang sangat kental dengan budaya Bali-nya.

Cara Membuat Tempe Goreng, Pisang Goreng, dan Bakwan Renyah untuk Imlek, Ini Campuran Tepungnya

Analisis I Dewa Gede Windhu, Masuknya Etnis Tionghoa ke Bali, Dari Pelinggih hingga Permainan Ceki

Persembahyangan Imlek, Ratusan Umat Hindu dan Etnis Tionghoa Padati Kongco Dwipayana

Di kelenteng ini terdapat beberapa arca baik Dewi Kwan In, Budha, maupun sejumlah Dewa dalam kepercayaan Hindu.

“Kelenteng ini dibangun tahun 2007 dan selesai dalam waktu 2.5 bulan saja. Saya tidak menyangka bagaimana prosesnya kok orang dari Bandung ke sini membantu, jadi saya membuat ini atas seizin dari mertua saya,” ujar Jero Gede Kuning kepada Tribun Bali, kemarin.

Kelenteng ini memiliki ukuran 7 x 10 meter dan berada di Jalan Kartini Gang II.

Setiap Hari Saraswati, dilaksanakan odalan di Kelenteng ini.

“Semua arca di sini tidak pernah dibeli, namun umat yang datang membawa ke sini. Seperti sudah ada yang mengatur,” katanya.

Banyak umat dari luar negeri yang datang ke Kelenteng ini, baik dari Cina, Jepang, hingga Perancis.

Termasuk saat perayaan Imlek.

“Biasanya enam bulan sekali datang mereka. Kebanyakan dari Perancis yang khusus datang ke Bali. Namun karena Covid-19 jadinya tidak bisa lagi datang ke sini,” jelasnya.

Sejarah Etnis Tionghoa di Kawasan Gajah Mada Denpasar, Datang Saat Masa Penjajahan Belanda

Hampir 101 tahun etnis Tionghoa telah menempati wilayah sekitaran Jalan Gajah Mada Denpasar, Bali.

Mereka berkembang dan bertumbuh melewati masa pasang surut juga di wilayah ini.

Ada tiga suku besar dari etnis Tionghoa yang menempati kawasan ini yakni Suku Kek atau Hakka, Suku Hokkian, dan Suku Tiociu.

Dalam lipsus Imlek kali ini, Tribun Bali merangkum tentang etnis Tionghoa yang hampir ratusan tahun menempati kawasan Gajah Mada.

Diperkirakan, mereka telah datang dan menempati kawasan Jalan Gajah Mada sekitar tahun 1920-an pada masa penjajahan Belanda.

Menurut penuturan salah seorang warga etnis Tionghoa, Sujadi Prasetio atau Tio Sing Khoei (87) etnis Tionghoa yang menetap di Gajah Mada dulunya datang dari Lombok.

Setelah itu beberapa dari mereka merantau dan menempati wilayah Kuta, Badung.

Dari Kuta inilah mereka kemudian mulai datang ke kawasan Gajah Mada termasuk Jalan Kartini hingga ke Jalan Gunung Agung Denpasar.

“Waktu tahun 1920-an awal saya kira di Denpasar ini belum berkembang betul (etnis Tionghoa). Orangtua saya itu di Lombok dulu membuat pabrik beras di sana. Di seputaran Gajah Mada waktu itu masih alang-alang,” kata Tio yang ditemui di kediamannya Jalan Kartini Gang II, Denpasar Rabu 10 Februari 2001 kemarin.

Saat masa awal, kebanyakan etnis Tionghoa yang menempati Gajah Mada kebanyakan suku Tiociu yang berasal dari Provinsi Guangsong.

“Awalnya di Gajah Mada banyak tukang sepatu, tukang gigi, tukang kayu, kemudian baru ada palen-palen. Dulu Gajah Mada belum begini, sederhana, semua seng, di rumah saya semua seng dulu dan sengnya bertahan lama sampai ratusan tahun,” katanya.

Bahkan menurutnya, dulu Jalan Gajah Mada belum bernama Gajah Mada.

Akan tetapi sampai saat ini masih belum ditemukan apa nama kawasan tersebut.

“Sudah saya tanya yang tua, belum juga ada yang tahu. Setelah berkembang baru namanya Gajah Mada,” katanya.

Saat pindah dari Kuta, orangtuanya membawa hasil bumi ke Gajah Mada, mulai dari kopra, bawang putih, juga kedelai.

Ia pun menuturkan, saat awal perkembangannya, wilayah Jalan Gunung Agung merupakan persawahan.

Orangtuanya pun sangat dekat dengan Puri Pemecutan kala itu.

“Jadi Jalan Gunung Agung ada daerah padi tapi tidak ada tempat mau dibawa ke mana. Orang tua saya lalu mendirikan pabrik beras di sana. Besar sekali, tapi kurang dari 1 hektar. Lalu dibuatlah jalan yang disumbangkan oleh Cokorda Pemecutan. Orangtua saya sama raja baik sekali, waktu itu sama Cokorda Gembrong,” tuturnya.

Ia pun menuturkan bahawa kala itu, di kiri dan kanan Jalan Gunung Agung selalu mengepul asap pembakaran sekam padi.

Sementara itu, di kawasan Jalan Gajah Mada hingga Kartini berkembang pertokoan milik etnis Tionghoa.

Ada ciri khas dari masing-masing suku yang menempati wilayah ini, dimana Suku Kek kebanyakan memiliki toko kelontong.

Sementara Suku Hokkian, dan Suku Tiociu kebanyakan memiliki penghasilan dari hasil bumi.

Ia pun menyebut bahwa Suku Kek merupakan orang pintar dan banyak juga yang menjadi guru.

Bahkan menurut pengakuannya, orangtuanya memiliki 6 toko di kawasan Jalan Kartini.

Namun setelah Jepang datang, semua toko miliknya diambil oleh Jepang.

“Jepang datang, Jepang yang pakai dan kita tidak pernah menikmati rumah-rumah di sana (Jalan Kartini). Saya ingat waktu itu, karyawan orang tua saya semua pernah ditempeleng Jepang karena tidak memberi hormat,” kenangnya.

Etnis Tionghoa di Kawasan Gajah Mada mengalami masa kejayaan tahun 1940 sampai tahun 1950-an.

Di mana mayoritas kawasan ini menjadi tempat tinggal warga etnis Tionghoa termasuk usaha mereka.

Namun yang unik, menurut Tio, antara Pasar Badung dan etnis Tionghoa yang berjualan di kawasan Gajah Mada maupun Kartini tak pernah ada persaingan.

“Kami saling melengkapi dan tidak ada persaingan,” katanya.

Setelah itu, banyak permasalahan yang timbul dan beberapa toko mulai dijual dan diambil alih oleh Arab dan India.

Penduduk etnis Tionghoa di sana pun berpencar ke beberapa daerah dan banyak juga yang kembali ke Kuta.

“Jadi kebanyakan mencar mereka, sebagian ke Kuta lagi, jadinya Kuta kan ramai sekarang dengan etnis Tionghoa. Kalau dihitung-hitung di sini hanya tersisa 30 sampai 40 persen warga Tionghoa,” paparnya.

Kejadian yang paling buruk dialami saat masa pemerintahan Soeharto.

Dimana saat itu banyak pemuda etnis Tionghoa yang kembali ke China karena di sini tidak diijinkan sekolah.

Mereka juga mengganti nama termasuk nama toko mereka agar tak menggunakan nama yang berbau China.

“Sekolah Tionghoa ditutup dan aset mereka banyak diambil. Kelenteng juga tutup dan banyak pemuda yang pulang ke China,” katanya.

Setelah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) komunitas ini mulai bisa bernapas lega.

Usaha mereka pun mulai menggeliat hingga saat ini.

Namun, karena masa pengekangan tersebut, menurut Tio banyak anak muda etnis Tionghoa yang hampir melupakan tradisi leluhurnya.

“Karena ada yang tua-tua, makanya adat istiadat dari leluhur kami masih tetap bertahan,” paparnya.

Walaupun etnis ini masih bertahan di kawasan Gajah Mada, namun jumlah mereka sudah tidak banyak.

Tempat usaha mereka yang masih bertahan pun bisa dihitung dengan jari.

“Yang bertahan toko yang jual kopi itu Bhineka Jaya, toko obat, dan beberapa toko. Kalau dulu banyak, sampai Wisnu Teater. Namun sudah kebanyakan dijual dan dibeli sama orang Arab dan India, sehingga kebanyakan pedagang kain di sini,” katanya.

Tio mengaku, walaupun ia dilahirkan di China namun kini ia tak memiliki keinginan untuk kembali menetap di China.

“Saya sudah jadi orang Indonesia jadi selamanya mau di sini. Dulu saya dilahirkan tahun 1934 di China saat orang tua saya pulang ke sana. Lalu saya diajak ke sini lagi,” akunya.

Hingga kini, sudah 6 generasi dari keluarganya yang menetap di Jalan Gajah Mada, dimana dirinya merupakan generasi kedua.

Sementara itu, ia juga memiliki seorang menantu yang bernama Jero Gede Kuning yang juga mendirikan Kelenteng Sing Bie.

Dimana di Kelenteng ini menganut ajaran Siwa Budha yang sangat kental dengan budaya Balinya.

Di kelenteng ini terdapat beberapa arca baik Dewi Kwan In, Budha, maupun Dewa dalam kepercayaan Hindu.

“Kelenteng ini dibangun tahun 2007 dan selesai dalam waktu 2.5 bulan saja. Saya tidak menyangka bagaimana prosesnya kok orang dari Bandung ke sini membantu, jadi saya membuat ini atas seijin dari mertua saya,” katanya.

Kelenteng ini memiliki ukuran 7 x 10 meter dan berada di Jalan Kartini Gang II.

Setiap Saraswati, dilaksanakan odalan di Kelenteng ini.

“Semua arca di sini tidak pernah dibeli, namun umat yang datang membawa ke sini. Seperti sudah ada yang mengatur,” katanya.

Banyak umat dari luar negeri yang datang ke Kelenteng ini, baik dari Cina, Jepang hingga Perancis.

“Biasanya enam bulan sekali datang mereka. Kebanyakan dari Perancis yang khusus datang ke Bali. Namun karena Covid-19 jadinya tidak bisa lagi datang ke sini,” katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved