Imlek di Bali

Persembahyangan Imlek, Ratusan Umat Hindu dan Etnis Tionghoa Padati Kongco Dwipayana

Persembahyangan Imlek 2020, Ratusan Umat Hindu dan Etnis Tionghoa Padati Kongco Dwipayana

TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Foto Persembahyangan di Griya Kongco Dwipayana 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ratusan umat datang silih berganti melaksanakan persembahyangan di Griya Kongco Dwipayana, Jalan Tanah Kilap, Pemogan, Denpasar, Bali.

Mereka melakukan persembahyangan dalam rangka Tahun Baru Imlek 2571, Sabtu (25/1/2020).

Suasana keberagaman sangat kental terlihat di Kongco ini.

Tak hanya etnis Tionghoa, umat Hindu Bali juga datang untuk melaksanakan persembahyangan ke Kongco ini.

Belanja Barang Dari Batam Akan Lebih Mahal, Ini Alasannya

Demi Membantu Persiapan Timnas Indonesia, Kick-off Liga 1 Musim 2020 Dimajukan

Bangunan di Jalan Hayam Wuruk di Lahap Si Jago Merah, Total Kerugian Diperkirakan Ratusan Juta

Busana, sarana upakara, cara mereka berdoa pun beragam sesuai keyakinan.

Ada yang menggunakan pakaian adat Bali, ada pula yang terlihat menggunakan pakaian serba merah.

Ada yang membawa banten maupun canang sebagaimana yang dibawa ke Pura, dan ada yang membawa dupa.

Cara mereka sembahyang pun beragam, ada yang melakukan panca sembah atau berdoa secara Hindu dengan bunga, ada pula yang menggunakan dupa.

Selanjutnya usai sembahyang mereka diperciki tirta oleh pemangku di sana dan mendapat bija berwarna kuning.

Pemangku di Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana mengatakan persembahyangan bersama telah dilakukan pada pukul 00.00 Wita untuk melepas tahun yang sebelumnya dan membuka tahun yang baru.

Persembahyangan ini usai pukul 02.00 Wita yang kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan sendiri-sendiri.

"Tahun Baru Imlek 2571 ini kita membuka lembaran baru. Persembahyangan ini berlangsung hingga tengah malam nanti. Umat yang datang dari segala penjuru," katanya.

Ia berharap tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Nuansa merah sangat kental pada Kongco ini.

"Merah itu lambang kecerahan. Kecerahan merupakan simbol sejahtera dan bahagia karena sejahtera memberikan kebahagiaan. Omong kosong jika tanpa kesejahteraan akan bahagia," katanya.

Selain persembahyangan, juga digelar hiburan kesenian di tempat ini mulai dari Barongsai hingga kesenian Bali.

Menurut Adnyana tahun ini jumlah umat Hindu yang bersembahyang ke tempat ini pun semakin banyak.

"Tadi malam hampir seimbang antara etnis Tionghoa dan Bali. Kalau Bali kan kepercayaannya Siwa Budha. Jadi antara pura dengan klenteng ada kemiripan, kebersamaan," katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved