Doni Monardo Temukan Kantong Darah HIV dan Jarum Suntik, Limbah Medis Dibuang Sembarangan
Di awal pandemi hal ini tidak terlalu diperhatikan. Namun kian hari persoalan limbah medis semakin serius.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA – Selain vaksinasi dan protokol kesehatan 3M ( Mencuci tangan; Memakai masker; Menjaga jarak ), pengelolaan limbah medis menjadi sorotan selama masa pandemi Covid-19.
Di awal pandemi hal ini tidak terlalu diperhatikan. Namun kian hari persoalan limbah medis semakin serius.
Pasalnya, limbah B3 ( Bahan Beracun dan Berbahaya ) itu jumlahnya kian banyak dan menumpuk. Tak hanya berasal dari rumah sakit, tetapi juga rumah tangga.
Baca juga: PILANG Curigai Ada Pelanggaran Pengolahan Limbah Medis RS Rujukan Covid-19 di Bali
Baca juga: Limbah Medis RSUD Klungkung Bali Capai 6-7 Ton Perbulan, Meningkat 20 Persen Selama Pandemi
Baca juga: Volume Limbah Medis di Seluruh Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Bali Capai 1,9 Ton Per Hari
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, sejak awal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020 hingga awal Februari 2021, terdapat 7.500 ton timbunan limbah medis Covid-19.
”Untuk sampah medis yang harus ditangani bersama. Dengan melihat situasi, maka seharusnya aktivitas sehari-hari juga turut menyumbang. Misalnya orang harus pakai masker, sehingga dengan pakai masker dia ganti setiap hari maskernya dan sampah medis masker ini akan semakin banyak," kata Dante.
Dante menyampaikan hal itu dalam webinar bertema ”Penguatan Pengelolaan Limbah Medis COVID-19 di Fasyankes” di channel Youtube Direktorat Kesehatan Lingkungan, Senin 15 Februari 2021.
Ia menuturkan, timbunan sampah medis berasal dari APD, barang habis pakai seperti jarum suntik, head cap, dan lain-lain.
Ini menjadi bagian dari total 67,8 juta ton sampah secara umum pada 2020. ”Kalau kita prediksi pandemi ini terus berjalan, maka angka sampah medisnya akan semakin banyak,” tutur Dante.
Data yang dipaparkan Dante itu sesuai dengan data yang dimiliki Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 KLHK, Sinta Saptarina mengungkapkan, data terkait limbah medis Covid-19 sejak awal pandemi Maret 2020 jumlahnya sangat tergantung pelaporan yang dilakukan daerah.
"Jumlah yang masuk ke kami sekitar 7.500 ton limbah medis di Indonesia sejak awal pandemi," kata Sinta.
Sementara Ketua Satgas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo mengungkapkan, limbah medis Covid-19 yang paling mengancam dan perlu segera diantisipasi adalah limbah yang berasal dari keluarga.
"Lazimnya limbah dikelola oleh rumah sakit atau tempat isolasi terpusat. Itu sudah ada pihak atau panitia yang bertanggung jawab untuk kelola limbah medis. Namun yang perlu diantisipasi adalah limbah medis dari keluarga, terutama masker," kata Doni.
Doni bercerita pengalamannya saat menjadi Pangdam di Maluku dan Jawa Barat. Kala itu, ia menemukan masalah sampah di Sungai Citarum.
"Saya pernah bertugas di Maluku dan Jabar. Salah satu yang terjadi adalah kerusakan ekosistem terutama di sungai, hampir semua di daerah. Di Jabar khususnya sungai Citarum adalah tempat pembuangan limbah atau sampah raksasa. Citarum salah satu yang tercemar di dunia, dari 10 sungai tercemar di dunia," urainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/aktivitas-pemilahan-sampah-di-toss-dusun-karangdadi.jpg)