Berita Denpasar
Gereja Katedral Denpasar Melaksanakan Misa Rabu Abu, Diajak Positif Terhadap Alam Semesta
Masa Pra Paskah Rabu Abu, Selain Pertaubatan, Umat Katolik Diajak Positif Terhadap Alam Semesta
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Umat Katolik Paroki Roh Kudus Gereja Katedral Denpasar melaksanakan Misa Rabu Abu sebagai masa Pra Paskah atau masa pertaubatan mengenang sengsara Yesus Kristus, pada Rabu 17 Februari 2021.
Pemandangan berbeda dengan prosesi Misa Rabu Abu tahun lalu, kali ini Rabu Abu dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan ketat karena situasi pandemi Covid-19.
Pantauan Tribun Bali, sekitar pukul 06.30 Wita meskipun sebagian wilayah Denpasar diguyur hujan tak menyurutkan umat untuk tetap hadir ke gereja serta dilakukan pembatasan jumlah umat yakni kapasitas maksimal 500 orang.
Misa Rabu Abu pagi ini dipimpin oleh Romo Alfridus Roni Bere, selanjutnya pada Misa Rabu Abu kedua pukul 09.30 Wita dipimpin langsung oleh Uskup Denpasar dan disiarkan Live Streaming.
Baca juga: Pastor Paroki Katedral Denpasar: Ikuti Misa Rabu Abu Online, Ini Panduan Pertobatan Penerimaan Abu
Baca juga: Umat Katolik di Bali, Simak Jadwal dan Panduan Misa Rabu Abu Besok
Baca juga: Hari Raya Paskah, Belajarlah dari Kisah Hidup Maria Magdalena
Dalam Misa Rabu Abu dilaksanakan prosesi penaburan abu kepada umat dengan lambang salib sebagai tanda penghayatan iman dalam pertaubatan.
Dalam homili Romo Roni mengatakan, bahwa Rabu Abu adalah awal masa pertobatan selama 40 hari agar dijadikan momentum oleh umat untuk mengubah sikap pandangan terhadap Tuhan, sesama dan alam semesta untuk lebih positif.
"Melalui pantang, puasa, amal dan doa, masa Pra Paskah ini menjadi momentum kita untuk mengubah sikap pandangan kita kepada Tuhan, kepada sesama dan alam semesta dengan mengubah hal negatif menjadi hal-hal positif," ujar Romo Roni yang didampingi Romo Marcos yang sedang dalam masa perutusan di Bolivia Amerika Selatan.
Pastor Paroki Gereja Katedral Denpasar, Romo Herman Yoseph Babey menjelaskan, pada masa pandemi Covid-19 tak mengurangi makna penerimaan abu saat mengikuti Misa Rabu Abu secara online.
Hal ini disampaikan dalam Surat Edaran panduan perayaan Rabu Abu bagi umat yang mengikuti Misa melalui live streaming kepada seluruh umat Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar, Bali.
Romo Babey menjelaskan, petunjuk khusus saat upacara penerimaan abu dan memaknai penerimaan abu meskipun diikuti oleh umat secara online/live streaming.
Umat yang mengikuti Misa Rabu Abu secara online tidak diperkenankan untuk menyiapkan abu sendiri, lalu melakukan pemberkatan abu secara online maupun menaburkan abu pada dahinya sendiri.
"Sebagai pengganti, ketika dilaksanakan penerimaan abu, umat dapat berdoa dalam hari sebagai ungkapan tobat, seperti saat umat berdoa komuni batin/kerinduan," kata Romo Babey kepada Tribun Bali.
Romo Babey juga menjelaskan, bahwa penerimaan abu merupakan simbolisasi dan sarana bagi umat yang menandai masa pertobatan.
"Marilah kita membangun sikap tobat yang penuh dalam hati kita. Selamat menjalankan masa Retret Agung kita dalam pantang, puasa, amal dan tobat hati kita," ajaknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/upacara-penerimaan-abu-dalam-misa-rabu-abu.jpg)