Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Karangasem

Arak Gula Menjamur di Karangasem, Petani Arak Tradisional Menjerit, Minta Gubernur Carikan Solusi

Petani arak tradisional di Kebung, Kabupaten Karangsem, merasa dirugikan maraknya arak gula di pasaran. Mereka minta Gubernur Bali carikan solusi.

Tayang:
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Komang Agus Ruspawan
Tribun Bali/Saiful Rohim
Petani arak tradisional di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, sedang memproses minuman arak. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Petani arak tradisional asal Desa Adat Kebung, Desa Telagatawang, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Bali, akan menggelar aksi jika home industry pembuatan arak gula semakin menjamur di Bumi Lahar.

Hal itu disampaikan Bendesa Kebung, Ketut Wika, kepada Tribun-Bali.com, Rabu 24 Februari 2021.

Petani arak tradisional di Kebung merasa dirugikan dengan adanya arak fermentasi gula di pasaran.

Industri arak gula menjamur setelah dikeluarkanya Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan atau Destilasi Khas Bali.

"Kita akan melakukan aksi jika tidak ada solusi dari pemerintah terkait menjamurnya industri arak dari gula,” kata Ketut Wika setelah melakukan audiensi dengan Dinas Perindutrsian & Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Karangasem, kemarin.

“Selanjutnya kita kita akan melakukan audiensi ke Bupati dan Gubernur Bali terkait kondisi ini," tambahnya.

Baca Juga: Kini Produk Arak Sudah Ada Perpres-nya, Unggit Pan Tantri Khawatir Jual Arak Malah Makin Susah 

Baca Juga: Perpres Nomor 10 Tahun 2021: Arak Bali, Brem Bali dan Tuak Bali Legal di Indonesia 

Ditegaskan, petani arak tradisional di Desa Adat Kebung kecewa dengan merebaknya industri arak gula.

Pasalnya permintaan dan harga arak tradisional menjadi turun drastis.

Hal ini karena penjual arak gula menjual dengan harga jauh lebih murah dari arak tradisional.

"Bayangkan harga arak gula per liter cuma Rp 8 ribu, sedangkan arak lokal atau tradisional harganya Rp 20-25 ribu per liternya,” terang Wayan Wika.

Karena itu arak tradisional kalah bersaing dengan arak gula. “Sebagian warga beralih pada arak gula. Permintaan arak tradisional jadi sepi," tandasnya.

Akibat merebaknya arak fermentasi gula, banyak petani tradisional terpaksa berhenti memproduksi arak.

Karena, para petani arak tradisional di Desa Adat Kebung meminta Gubernur Bali mencarikaan solusi terkait masalah ini.

"Warga di Kebung hampir 99 persen kerja sebagai petani arak tradisional," tambahnya.

Perbekel Telagatawang, I Komang Muja Arsana, mengatakan petani arak tradisional sementara berhenti lantaraan arak tradisional kalah bersaing di pasaran dengaan arak fermentasi dari gula.

"Ada puluhan petani yang berhenti memanjat pohon kelapa. Petani mengaku rugi memanjat kelapa jika ujung-ujungnya hasil dari memanjat kelapa (arak) tidak laku terjual di pasaran,” sebutnya.

Kondisi ini membuat petani arak tradisional merugi. “Makanya desa pusing dengan kondisi ini," ungkap Muja Arsana, Selasa 23 Februari 2021.

Peredaran arak fermentasi gula merebak di Karangasem sejak tahun 2020 lalu. Kehadiran arak gula ini menggeser arak tradisional di pasaran.

"Sekarang petani arak tradisional menjerit karena terjepit dengan arak gula yang difermentasi. Permintaan arak tradisional merosot, hampir tak laku jual pasca pengusaha berbondong memproduksi arak gula," tambah Arsana.

Petani berharap pemerintah bisa memberi perhatian dan mencarikan solusi ke masyarakat khusus petani arak. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan jika dibiarkan berlarut-larut.

“Jika dibiarkan, warga akan kesulitan memenuhi ekonominya. Mengingaat arak tradisional penghasilan utama,” katanya.

Baca Juga: Petani Arak di Karangasem Keluhkan Maraknya Arak Gula, Redana: Tak Berkembang Seperti Harapan 

Baca Juga: Koster Beri Nama Barak, Arak Bali Jadi Minuman Berkelas Dunia 

Menurut data dari Dinas Perindutrsian & Perdagangan (Disprindag) Kabupaten Karangasem, jumlah petani arak sekitar 7.600 orang.

Mereka tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Manggis, Sidemen, Abang, serta Kubu.

Masing-masing di Desa Telagatawang, Tenganan, Dukuh, Sidemen, dan Tri Eka Buana.

Dari ribuan petani arak di Karangasem, 800 orang dari Kecamatan Manggis, 2.500 orang dari Kecamatn Abang, dan 600 orang dari Kecamatan Kubu.

Paling banyak yakni di Kecamatan Sidemen mencapai 3.800 petani arak.

Produksi arak di Karangasem per tahun capai 2.650.000 botol.

Jika dikalkulasi perbulannya, petani arak di Karangasem mampu memproduksi sekitar 220.000 botol. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved