Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Myanmar

Polisi Myanmar yang Membelot Meningkat Tajam, Mereka Dukung Rakyat Melawan Junta Militer

Kondisi terkini dilaporkan, lebih dari 600 orang polisi Myanmar bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
AFP/YE AUNG THU
Polisi Myanmar menindak demonstran yang menentang kudeta militer di Yangon pada 27 Februari 2021. Kini semakin banyak jumlah polisi yang membelot. Mereka bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil. 

Secara tiba-tiba, penegak hukum dari arah berlawanan dipersenjatai meriam air datang untuk membubarkan unjuk rasa.

Kericuhan pun pecah. Militer mulai menembaki, mengejar, dan menghajar pengunjuk rasa dan membuatnya terkejut.

"Saya langsung berpikir bahwa hari ini (28 Februari) adalah hari saya mati. Jadi, saya siap melakukannya," katanya.

Biarawati Katolik berusia 45 tahun itu keluar, dan memohon kepada aparat untuk tak menembaki massa karena mereka tak berbuat jahat.

Dia mengungkapkan, saat itu dia menangis seperti orang gila, seperti induk ayam yang berusaha melindungi anak-anaknya.

Ann Roza mengatakan, dia langsung pergi keluar saat melihat aparat memukuli demonstran, dan mengaku suasananya seperti perang.

"Saya berpikir lebih baik saya yang mati daripada mereka. Saya menangis sejadi-jadinya. Tenggorokan saya sakit," ujarnya.

Saat itu, yang ada dalam benak Ann Roza adalah menyelamatkan massa dan menghentikan kekejaman aparat.

Dia mengaku tidak takut karena memikirkan korban dua orang gadis di Naypyidaw dan Mandalay yang ditembak mati.

"Saya berpikir tentang korban yang jatuh di negara ini. Jadi, saya khawatir dengan orang-orang di Myitkyina," ujar dia. Saat pihak berwenang mencapai pohon banyan, Ann Roza menerangkan, dia langsung memohon mereka untuk berhenti.

Dengan menangis keras, dia meminta kepada tentara dan polisi untuk membunuhnya. Aparat sempat berhenti beberapa lama.

"Suster, jangan terlalu khawatir. Kami tak akan menembak mereka," kata seorang aparat yang mendekatinya. Mendengar jawaban itu, Ann Roza menyatakan, dia khawatir karena massa bisa terbunuh dengan senjata yang lain.

Dalam pikirannya, Ann Roza tidak percaya dengan omongan itu karena dia sudah sering mendengar orang ditembak mati.

"Saya mereka (militer) bukanlah penjaga masyarakat. Kami tidak nyaman dan terjadi penangkapan brutal," jelasnya. Suster Ann Roza dengan lantang mengkritik aparat yang tak segan-segan membunuh demonstran yang tak mereka sukai.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul 600 Polisi Myanmar Membelot, Ikut Rakyat Lawan Junta Militer

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved