Breaking News:

Berita Klungkung

Upaya Pertanian Organik, Pemkab Klungkung Demplot Padi dengan Pupuk Kompos Olahan Sampah

Pemkab Klungkung melakukan demontrasi plot (demplot) padi, yang dipupuk dengan hasil olahan sampah.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta saat memantau demplot padi di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung - Upaya Pertanian Organik, Pemkab Klungkung Demplot Padi dengan Pupuk Kompos Olahan Sampah 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Pemkab Klungkung melakukan demontrasi plot (demplot) padi, yang dipupuk dengan hasil olahan sampah.

Jika hasilnya sesuai harapan, Pemkab berencana akan mengembangkan pertanian organik di sekitar Kawasan TOSS Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung.

Demplot dilaksanakan di lahan seluas 26 are, di Dusun Karangdadi, Kusamba, Klungkung, Bali.

Masing-masing lahan ditanami padi, dengan pemberian pupuk berbeda, yakni pupuk osaki dan pupuk curah yang merupakan pupuk olahan sampah dari tempat olah sampah setempat (TOSS).

Baca juga: Balai Karantina Pertanian Denpasar Gagalkan Upaya Penyelundupan 1,7 Ton Daging Babi Ilegal ke Bali

Baca juga: Hasil Pertanian Labu Siam di Desa Siakin Bangli Diserang Lalat Buah

Baca juga: Petani Desa Sidan Gianyar Panen Padi Organik Seluas 35 Hektare, Harga Lebih Mahal 50 Persen

Lalu dibandingkan dengan lahan padi yang menggunakan pupuk kimia.

"Jadi upaya ini kami lakukan untuk mengetahui seberapa efektif penggunaan pupuk organik dari olahan tempat olah sampah setempat, jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia," ujar Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, Jumat 12 Maret 2021.

Dari hasil pemantauan pada padi berumur 90 hari, pertumbuhan padi dengan pupuk organik hampir sama dengan padi yang menggunakan pupuk kimia.

Hanya saja tumbuh sedikit gulma pada varietas padi yang menggunakan pupuk organik.

"Dari hasil pemantauan secara langsung, padi dengan pupuk organik ternyata tumbuh gulmanya. Tapi itu tidak terlalu banyak, sehingga belum mengganggu tanaman," jelas Suwirta.

Hanya saja pemantauan langsung itu belum bisa memberikan gambaran secara detail terkait dari hasil plot.

Hasil baru diketahui saat sudah panen, dan gabah telah ditimbang.

"Padi ini diperkirakan panen 15 hari kedepan. Dari sana kita lihat hasilnya, jika hasil gabah pupuk organik sama ataupun kurang sedikit dari pupuk kimia, tentu hasilnya bisa dikatakan baik," ungkap Suwirta.

Jika hasilnya ternyata bagus, nantinya Dinas Pertanian diminta berkoordinasi dengan petani setempat untuk membuat pertanian organik.

Semua pupuk untuk petani, nanti didapat cuma-cuma dari TOSS.

"Keuntungannya sebenarnya tidak hanya hasil pertanian yang sehat, karena organik. Tapi bagaimana kami bisa memanfaatkan olahan sampah di TOSS, sehingga penuntasan sampah juga bisa lebih maksimal," ungkapnya.(*).

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved