Myanmar

Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Bagi Myanmar, Yayasan yang Didirikan Soros Tuntut Bebaskan Stafnya

Yayasan tersebut menampik tuduhan junta bahwa mereka membiayai demonstrasi anti-kudeta atau gerakan pembangkangan nasional.

Editor: DionDBPutra
AFP/Sai Aung Utama
Para pengunjuk rasa menyalakan lilin di luar Kedutaan Besar AS selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 21 Februari 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, LONDON - Uni Eropa segera menjatuhkan sanksi terhadap kepentingan bisnis junta militer Myanmar. Sementara Yayasan Open Society Myanmar (OSM) yang didirikan miliarder George Soros menuntut pembebasan seorang stafnya.

Yayasan tersebut menampik tuduhan junta bahwa mereka membiayai demonstrasi anti-kudeta atau gerakan pembangkangan nasional.

"Kami sangat prihatin dengan laporan bahwa seorang anggota staf OSM telah ditahan di Myanmar," kata Yayasan seperti dilansir Reuters, Rabu 17 Maret 2021.

"Kami menyerukan pembebasannya segera. Kami khawatir dengan laporan bahwa pihak berwenang berusaha menginterogasi anggota staf lainnya," demikian pernyataan OSM.

Baca juga: Korban Nyawa Terus Berjatuhan di Myanmar, 180 Orang Tewas dalam Enam Pekan Terakhir

Baca juga: Junta Militer Myanmar Tetapkan Darurat Militer, Seorang Gadis Usia 15 Tahun Tewas Ditembak

Media junta melaporkanm aparat berwenang Myanmar menahan seorang pejabat dari Yayasan dan sedang mengincar 11 karyawan lain atas kecurigaan kelompok itu meneruskan dana kepada lawan kudeta.

"Klaim pelanggaran keuangan, termasuk bahwa OSM bertindak ilegal dengan menarik dana mereka sendiri dalam mata uang lokal dari bank SMID, adalah palsu," kata Yayasan OSM.

"Klaim bahwa OSM menggunakan dana ini untuk tujuan ilegal adalah palsu. Dana ini digunakan untuk tujuan sepenuhnya dalam tujuan OSM," tegasnya.

OSM menyebut tuduhan junta sebagai upaya mendiskreditkan mereka yang ingin kembali ke perdamaian dan demokrasi di Myanmar.

Sebelumnya militer Myanmar menahan seorang pejabat Yayasan yang didirikan Soros atas tuduhan membiayai demonstrasi anti-kudeta atau gerakan pembangkangan nasional.

Militer Myanmar pimpinan Jenderal Min Aung Hlaing pun memburu 11 staf Yayasan OSM lainnya.

Surat kabar junta militer, Global New Light of Myanmar, melaporkan, Yayasan OSM mentransfer dana tanpa izin Departemen Manajemen Valuta Asing.

Yayasan dituduh menukar 1,4 juta dolar AS ke mata uang Myanmar, kyat, tanpa mengikuti aturan dan regulasi yang berlaku.

Disebutkan pula, yayasan memberikan bantuan tunai untuk gerakan pembangkangan sipil.

Global New Light of Myanmar juga menyebutkan, pejabat keuangan OSM, Phyu Pa Pa Thaw, ditangkap sejak Jumat lalu untuk dimintai keterangan terkait arus dana ke gerakan pembangkangan sipil.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved