Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Pawisik Pakelem Kepala Kebo, Agar Pandemi Covid-19 Segera Berlalu

Masyarakat Hindu percaya, bahwa alam sekala dan niskala ada dan akan selalu berdampingan sampai kapanpun.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Noviana Windri
Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Yayasan Lautan Kebun Koral Bali adakan upacara Mendem Pakelem, Rabu (25/11/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Hindu Bali atau Hindu Nusantara, memang mengenal sekala-niskala sejak dahulu kala.

Masyarakat Hindu percaya, bahwa alam sekala dan niskala ada dan akan selalu berdampingan sampai kapanpun.

Sehingga dari sana lahirlah, tradisi dan adat budaya yang berkaitan dengan agama.

Segala sesuatunya terkait, seperti banten dan upacara yang kerap dilakukan oleh masyarakat Hindu.

Hal itu pun turun-temurun hingga saat ini. 

Pawisik yang Menyembuhkan I Gede Alit Adnyana Hingga Membangun Pura Campuhan Windhu Segara Denpasar

Pemasang Patung Nyi Roro Kidul di Pantai Water Blow Nusa Dua Mengaku Dapat Pawisik ini

Banyak ritual pembersihan, permohonan kepada Tuhan melalui bebantenan kerap dilakukan.

Agar terjadi keseimbangan antara bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia). Serta keseimbangan Tri Hita Karana, yakni hubungan dengan Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia.

Satu diantara ritual yang kerap dilakukan adalah menghaturkan caru, atau bahkan pakelem untuk menetralisir aura negatif yang dapat menyebabkan penyakit dan wabah. 

Begitu juga dengan pandemi Covid-19, yang sudah setahun lebih menyerang dunia. Mematikan ekonomi dan membatasi aktivitas warga di berbagai belahan negara.

Termasuk di Bali, yang kehilangan banyak sumber pendapatan karena pariwisata tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Untuk itu, Komunitas Kearifan Lokal Nusantara (Kori Lontara), mengusulkan penanganan untuk memberantas pandemi Covid-19 tidak hanya dari sisi medis saja.

“Tetapi juga harus menyasar sisi ritual dan spiritual, untuk mewujudkan keseimbangan dengan alam semesta ini,” jelas Ida Bagus K. Susena, Koordinatior Kori Lontara, kepada Tribun Bali, Selasa 30 Maret 2021. Bangsa Indonesia, kata dia, dikenal selama ribuan tahun mengatasi permasalahan disharmoni alam dengan melakukan berbagai ritual.

Terima Pawisik Ini, Wakil Bupati Karangasem Wayan Arthadipa Tangkil ke Puri Gede Buleleng

Satu diantara ritual tersebut adalah larung saji (mulang pakelem) di laut. “Sebab laut dikenal sebagai unsur feminisme alam, yang menjadi sumber berkumpulnya berbagai energi. Satu diantaranya energi negatif yang membawa wabah jenis apapun,” katanya. Larung saji yang ia sebutkan, dinamai ‘Larung Saji Segara Nusantara’ yang harus dilakukan dalam waktu dekat.

Hal ini bukan tanpa alasan, sebab pawisik untuk itu telah didapatkan oleh para sesepuh nusantara. Dari berbagai wilayah baik Bali dan luar Pulau Dewata.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved