Serba Serbi
Pawisik Pakelem Kepala Kebo, Agar Pandemi Covid-19 Segera Berlalu
Masyarakat Hindu percaya, bahwa alam sekala dan niskala ada dan akan selalu berdampingan sampai kapanpun.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Noviana Windri
“Laut atau perut dari dunia ini, sudah kotor karena berbagai hal. Termasuk dari berbagai roh gentayangan, korban kecelakaan di darat, udara, dan laut. Ataupun korban pembunuhan, terorisme. Nah kekotoran tersebut konon sudah menembus lapisan ke-7 bumi,” sebutnya.
Di bawah itu, yang menyebabkan energi negatif meluas dan menjadi virus Covid-19 salah satunya.
Hal itulah yang perlu dinetralisir dengan pakelem.
“Romo dari Jawa, yang juga penekun spiritual juga mengatakan bahwa syaratnya larung atau sama dengan pakelem,” katanya.
Dan ia mengatakan lebih spesifik agar dilakukan di tengah nusantara dan patokannya laut selatan.
Susena berharap pemerintah pusat mau ikut turun tangan dalam hal ini.
Sebab kehadiran pemerintah sangat penting, dalam prosesi upacara larung saji atau pakelem ini.
Apalagi batas waktu hanya sampai Tilem Kedasa 11 April 2021.
Untuk itu, ia terus gencar memberikan proposal kesana-kemari. Guna menggali dana untuk membuat prosesi dan sarana ritualnya.
“Ternyata biayanya besar. Kisaran anggaran mendatangkan sekitar 33 orang dari berbagai wilayah, akomodasi, transportasi, dan konsumsi selama 2 hari. Tanggal 10 dan 11 itu sekitar Rp 396 juta. Rp 90 juta diantaranya dana untuk ritualnya saja,” jelasnya. Ia berharap banyak yang melihat kondisi ini sebagai peluang di tengah kondisi sekarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/yayasan-lautan-kebun-koral-bali-adakan-upacara-mendem-pakelem.jpg)