Breaking News:

Berita Bali

Kritisi Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Beri Saran Begini

Gde Sumarjaya Linggih alias Demer meminta agar megaproyek yang menghabiskan dana Rp2,5 Triliun tersebut direvisi atau ditinjau kembali.

Penulis: Ragil Armando | Editor: Noviana Windri
ist
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer. 

"Bayangkan kalau dana sebesar 2,5 triliyun katakanlah dibagi menjadi 25 milyar per pusat-pusat kebudayaan Bali sekarang ini, maka terdapat 100 titik pusat-pusat kebudayaan masyarakat Bali yang bisa diperkuat melalui beragam program," jelas politisi asal Tajun Buleleng ini.

Sekali lagi Demer memahami tujuan pembangunan Pusat Kebudayaan Bali ini dalam rangka memperkuat dan menjaga kelestarian kebudayaan Bali.

Hanya saja, ia berandai jika dana sebesar tersebut digunakan untuk memperkuat pusat-pusat kebudayaan yang sudah ada, misalnya Desa Panglipuran, Desa Tenganan, Pura Besakih dan lain-lain, maka kebudayaan masyarakat Bali yang menjadi bagian dari keseharian hidup masyarakat Bali akan semakin baik.

"Dan ini tidak perlu menggerus anggaran daerah untuk biaya pemeliharaan sebagaimana halnya kita membuat bangunan fisik pusat kebudayaan," tegas Demer.

Demer menilai justeru dengan memberikan suntikan dana pada pusat-pusat kebudayaan yang hidup dalam masyarakat itu maka dengan sendirinya akan dipelihara oleh masyarakat.

Koster Harap Masyarakat Pemilik Lahan Dukung Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali

Menengok Eks Galian C Klungkung yang Bakal Jadi Pusat Kebudayaan Bali, Dulunya Lokasi Prostitusi

Rumah Bedeng Masih Nampak di Eks Galian C,Akan Ditertibkan Jika Proyek Pusat Kebudayaan Bali Dimulai

“Titik-titik kebudayaan ini akan menjadi destinasi kebudayaan baru atau akan meningkatkan kunjungan wisatawaan pada pusat-pusat kebudayaan yang sudah ada. Pemasukan dari kunjungan wisatawan ini, sebagian dapat dialokasikan sebagai biaya pemeliharaan,” paparnya.

Ia kemudian mencontohkan Desa Panglipuran yang diberikan dana sebesar 25 milyar untuk memperbaikan infrastrukturnya.

Dana tersebut misalnya digunakan untuk membangun jaringan listrik bawah tanah sehingga tak perlu lagi menggunakan kabel yang melintas di atas yang tampak tidak selaras dengan bangunan tradisional yang ada di sana.

Kemudian dibangun saluran drainase yang bagus, saluran air bersihnya juga bagus.

Dibuat pula toilet umum yang bagus yang serasi dengan corak bangunan tradisional yang ada di sana.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved