Bisnis

Berkah di Tengah Pandemi Covid-19, Warung Ayam Geprek Raro Kadek Roy Kini Beromzet Rp 4 Juta Sehari

dikarenakan menjadi salah satu pekerja pariwisata yang dirumahkan, Kadek Roy mulai membuka usaha ayam geprek dengan rekan-rekannya.

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Kedai Ayam Geprek Raro yang beralamat di Jalan Nangka Utara yang selalu ramai pengunjung. 

Dengan menjual ayam geprek seharga 10 ribu, menurutnya tidak merugi dikarenakan usahanya tersebut masih berjalan. Dan pada bulan Mei mendatang ini kedai ayam gepreknya genap berusia satu tahun.

Kedai ayam geprek yang dinamai Ayam Geprek Raro ini sudah membuka cabang di beberapa tempat.

Salah satunya di Nangka Utara, Padma dan sisanya pada dua tempat yakni di Sidakarya dan Depan Rumah Sakit Trijata masih dalam proses.

Dalam sehari ia dapat menghabiskan 350 potong ayam pada kedai ayam geprek di Nangka Utara.

Sementara pada Jalan Padma biasanya menghabiskan ayam dibawah 150 potong.

Sudah membuka dua cabang, ia juga mengajak enam karyawan yang tiada lain adalah temannya dahulu yang sama-sama dirumahkan oleh Hotel tempatnya bekerja.

Ia dan teman-temannya ketika bekerja di pariwisata sebagai waiters, sehingga sebenarnya tidak memiliki basic memasak.

 Namun berkat semangat dan kegigihan akhirnya ayam geprek buatannya pun banyak diburu masyarakat.

Semuanya ia racik sendiri mulai dari bumbu untuk tepung hingga sambalnya.

Sedangkan untuk omzet bersihnya, ia mengakui dalam sebulan mendapatkan hingga 30 juta atau keuntungan bersihnya 1 juta dalam sehari.

Baca juga: Promo KFC Hari Ini Senin 5 April 2021, Mulai Rp 50 Ribuan Dapat 5-9 Potong Ayam

"Sebulan kalau bersih 30 juta. Kalau semalam 4 juta. Kita buka dari 16.30 Wita sampai habis kadang sampai jam 24.00. Dan kebanyakan makan take away. Sampai pake nomor antrian agar tidak rebutan kadang bingung mana yang duluan dan belakangan," imbuhnya.

Sementara saat ini kendalanya ketika berjualan ayam geprek adala pada harga bahan pokoknya seperti cabai dan daging ayam.

 Ia juga membuka kedai ini setiap hari kecuali pada Hari Raya Hindu.

Ketika disinggung apakah ini merupakan suatu berkah, Pria asal Kabupaten Buleleng ini mengatakan mungkin ini termasuk berkah baginya dan teman-temannya.

"Mungkin gara-gara Covid-19 berkah karena berawal dari iseng-iseng daripada diem. Dan  akhirnya rame dan banyak yang suka sampai sekarang," tutupnya. (*)

Artikel lainnya di Bisnis

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved