Serba Serbi
Pemacekan Agung, Jangan Panjat Pohon Hari Ini
Hari ini, Soma Kliwon Kuningan, bertepatan dengan hari raya suci Pemacekan Agung.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Bahkan dalam lontar Sundarigama, dinyatakan bahwa para umat Hindu wajib menghaturkan segehan pada pintu masuk dan lebuh atau pemesuan rumah sebagai penyomya Sang Kala Tiga.
Biasanya segehan dihaturkan sore hari.
Tujuannya agar mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta para pengikutnya.
Kembali ke asalnya semula.
"Menurut kepercayaan umat Hindu Bali, bahwa hari suci ini dimaknai sebagai harinya umat manusia. Makanya pada saat ini umat Hindu tidak boleh bercukur rambut atau tidak boleh megundul dan jika dilanggar akan berakibat buruk," tegasnya.
"Hal demikian, tercantum di buku Wariga Krimping yang disusun I Wayan Purna," sebutnya.
Hari suci Pemacekan Agung, merupakan hari beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Sang Hyang Paramesesra.
Maka pada saat ini, umat Hindu diharapkan dengan khusyuk memuja keagungan beliau dengan sarana upakara atau minimal canang asebit sari.
Bisa juga sesaji sakasidan (sekemampuan) sebagai sarana untuk memohon kerahayuan, kerahajengan dan keselamatan dalam mencapai kemuliaan hidup.
"Hal ini juga diperkuat dalam isi lontar Dharma Kahuripan, bahwa semua umat Hindu diwajibkan memusatkan kesadaran diri dengan sarana upakara untuk meningkatkan kekuatan kemenangan Dharma melawan Adharma dalam mencapai kemuliaan kehidupan," imbuhnya.
Pantangan lainnya seperti mendaki gunung, bahkan memanjat pohon juga tidak diperkenankan.
Sebab pada hari suci ini, saat beryoganya Ida Bhatara Sang Hyang Parameswara.
"Jadi jika ini dilanggar akan menimbulkan sesuatu yang negatif misalnya jatuh atau celaka dan yang lainnya," kata pensiunan kepala sekolah ini.(*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hindu-bali-sembahyang-1.jpg)