Ngopi Santai

Dunia dan Kehidupanmu Berubah Mengikuti Hatimu, Bukan Karena Kerja Kerasmu ?

Di kalangan peminat studi kesadaran (consciousness) dan spiritualtas, nama Prof. David R. Hawkins boleh jadi tidak asing lagi.

Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
pixabay
Ilustrasi tentang Kesadaran 

Sebelumnya, pembahasan tentang kesadaran dan spiritualitas lebih banyak abstrak, tak terukur atau kualitatif, dan didominasi oleh cara pandang versi agama-agama, sehingga tampak tersekat-sekat. Sumbangan terpenting Hawkins, menurut saya, adalah berupa wawasan dan metode baru dalam mengantarkan orang untuk memahami kesadaran (consciousness) secara melintas-batas, universal, melampaui sekat-sekat.

Karena hasil kajiannya yang terukur dan akademik-saintifik tentang kesadaran seperti yang ditunjukkan dalam Peta Kesadaran (Map of Consciousness/MoC) dan Level Kesadaran (Level of Consciousness/LoC), maka diklaim bahwa wawasan dan metode menuju kesadaran yang ditawarkan Hawkins ini bebas dogma atau non-dogmatis. 

Tentang MoC dan LoC, yang dihasilkan setelah Hawkins melakukan penelitian sekitar 29 tahun, dijelaskan dalam buku “Power vs Force”.

Tanya: Oke, saya kini jadi agak tahu tentang siapa David R. Hawkins. Kembali ke kutipan di awal tulisan di atas. Apa sih yang dimaksud dengan kemenjadian itu?

Jawab: Dalam buku-bukunya, Hawkins menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kemenjadian pada dasarnya adalah tingkat kesadaran (level of consciousness).

Meskipun mungkin ini menyederhanakan konsep consciousness, namun untuk lebih mudahnya, khususnya bagi publik Indonesia, saya sebut saja bahwa kemenjadian ialah kualitas hati.

Nah, menafsirkan kutipan tersebut, maka bisa dikatakan bahwa ucapan dan perbuatan semata dari seseorang tidak akan mengubah dunianya atau kehidupannya. Perubahan kehidupannya terjadi hanya jika menyertakan atau sebagai akibat dari berubahnya kualitas hati orang itu.

Mungkin ini terdengar masih sulit dicerna oleh orang kebanyakan. Apalagi ada ungkapan populer “berilah contoh dengan tindakan” dan juga “action speaks louder than words”, yang menyiratkan bahwa peran tindakan lebih sentral untuk membuat suatu perubahan.

Tanya: Mengapa Anda sebut “mungkin sulit dicerna”?

Jawab: Ada yang luput dari ungkapan-ungkapan tersebut. Pertanyaan yang lebih penting: tindakan bagaimana yang memberi efek mengubah, atau seperti apa kualitas tindakan yang membawa perubahan?

So, bukan semata dan sekadar tindakan/perbuatan, tetapi muatan dan bobot kesadaran dalam tindakan/perbuatan, itulah kuncinya. 

Dengan kalimat lain, kualitas tindakan tidak ditentukan oleh apa yang terlihat di luar saja (tangible), tetapi lebih banyak oleh apa yang ada di dalam, oleh motifnya, oleh muatan kesadarannya. Dan motif itu intangible alias tidak terlihat.

Urusan yang tak terlihat atau urusan batin inilah yang terlewatkan dalam beberapa buku yang menyajikan tips and tricks tentang perubahan. Mereka baru bicara tentang lapisan luar, belum menyentuh yang dalam dan paling dalam.

Nah, dalam konteks perubahan, buku-buku Hawkins, dan ada juga beberapa buku lainnya, lebih banyak mendiskusikan lapisan dalam ketimbang lapisan luar.   

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved