Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Dunia dan Kehidupanmu Berubah Mengikuti Hatimu, Bukan Karena Kerja Kerasmu ?

Di kalangan peminat studi kesadaran (consciousness) dan spiritualtas, nama Prof. David R. Hawkins boleh jadi tidak asing lagi.

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
pixabay
Ilustrasi tentang Kesadaran 

Disequilibrium merupakan masalah. Sebab, sekali lagi, alam semesta, termasuk di dalamnya makhluk hidup (pun manusia), didesain oleh Sang Maha Pencipta antara lain dalam keseimbangan (equilibrium).

Ketidakseimbangan atau disequilibrium inilah sumber kegelisahan, yang  rentetannya adalah disebut penderitaan.

Tatkala seseorang mulai gelisah, itu bisa diartikan bahwa ada yang kurang atau tidak sesuai antara tiga unsur tersebut.

Ucapan dan tindakan semestinya merupakan pantulan dari “suara” hati yang terdalam. Kalimat kuncinya: apakah suara batin sesuai dengan yang terucap oleh lisan dan terwujud dalam tindakan?

Oleh karena itu, niat atau gerak hati menempati posisi yang penting dalam suatu perbuatan.

Bisa saja, dari luar perbuatan seseorang tampak baik; tetapi belum tentu yang di dalam (niatnya) juga sama baik.

Sebaliknya, dari luar bisa tampak sebagai perbuatan biasa-biasa saja, namun perbuatan itu justru memiliki kedudukan mulia atau bernilai tinggi jika dilandasi dengan niat yang tulus dan bersih. Tanpa tercemar kepentingan ego.

Oleh karena itu, seseorang bisa saja menganggap dirinya melakukan banyak perbuatan baik (karena secara kasat mata memang terlihat demikian), namun perbuatannya itu boleh jadi justru bernilai rendah bahkan tak memiliki nilai transformatif apa-apa, apabila sekian banyak perbuatan baiknya itu tidak disertai keikhlasan atau ketulusan.

Kebaikannya itu berpamrih atau bersyarat. Ada udang di balik batu.

Perbuatan semacam itu justru hanya akan menorehkan noda-noda  hitam pada hati.

Tanya: Jadi, perubahan itu sifatnya inside out (dari dalam diri ke luar), bukan from outside in (dari luar ke dalam diri)?

Jawab: Persis. Karena di “dalam” berubah, maka yang “di luar” merupakan konsekuensinya. Perubahan yang sejati berasal dari dalam. Oleh sebab itu, dalam transformasi diri, jangan berharap pada perubahan eksternal atau pihak luar yang memulainya dulu.  

Perubahan yang transformatif itu dimulai dari inti, di ruang batin. Perubahan pada inti inilah yang kemudian mengimbas atau mempengaruhi lapisan-lapisan berikutnya hingga bagian luar dan fisikal (physical).

Itu pada dasarnya seperti yang juga dijelaskan oleh buku “The Biology of Belief” dari Bruce H. Lipton.

Disebutkan bahwa gen dan DNA tidak mengontrol biologi (fisik) kita. Sebaliknya, DNA dikendalikan oleh sinyal dari luar sel, termasuk pesan-pesan energetik yang berasal dari kesadaran kita.

Jadi, bermula dari adanya kesadaran atau menyadari, kemudian terbentuk keyakinan. Keyakinan atau belief yang merupakan aspek dalam atau batin akan mempengaruhi kimiawi dan biologi fisik.

Oleh sebab itu, perubahan itu harus tersadari dan malah sebaiknya kemudian terprogram. Tidak mungkin refleks, spontan atau otomatis. 

Spontanitas itu berada di alam bawah sadar. Sedangkan perubahan itu terjadi melalui atau dari alam sadar.

Ada istilah yang pas, yang dikenal umum sebagai insyaf dan keinsyafan. Nah, sebelum berubah, seseorang harus insyaf atau menginsyafi. Menginsyafi dulu keadaannya, mengapa menjadi seperti kini.

Ada juga istilah tobat, meskipun tobat berbeda dengan insyaf. Insyaf itu mendahului tobat.

Dalam konteks perubahan yang transformatif, insyaf atau keinsyafan merupakan kesadaran baru dalam bentuk benih. Bibit menuju level kesadaran atau kualitas hati yang lebih tinggi.

Dari situ kemudian dikatakan mengapa kesadaran atau kualitas hati lebih membawa dampak pada kehidupan dan dunia seseorang.

Tanya: Anda sebelumnya bilang ada indikator dari kualitas hati. Bisa dijelaskan lebih lanjut?

Jawab: Meskipun kualitas hati intangible dan sulit diukur kondisi keseluruhannya secara persis, namun kualitas hati bisa dideteksi melalui rasa/perasaan. Setidaknya kondisi temporernya pada momen kejadian.

Bahkan ada teknologi yang bisa membaca atau mendeteksi kualitas momentary   hati kendati tidak sepenuhnya akurat. Yakni lie detector atau detektor kebohongan, yang dipakai dalam proses interogasi oleh aparat penegak hukum.

Yang diukur oleh detektor kebohongan adalah indikator-indikator fisiologis seperti degup jantung dan tensi darah, pernapasan, serta daya konduksi kulit (tingkat kemampuannya dalam menghantarkan listrik).

Kita ambil satu bagian saja, yakni kaitan antara perasaan dan detak jantung. Jantung adalah organ yang sangat sensitif terhadap dinamika perasaan; dan dinamika perasaan tergantung pada dinamika pikiran sadar (PS) dan pikiran bawah sadar (PBS).

Perasaan muncul dari PBS. Sedangkan logika berada di pikiran sadar. Jika pilihan PS bertolak belakang dengan apa yang ada di PBS, maka apa yang ada di PBS yang menang. Demikian menurut hasil riset dalam mind technology.

Alhasil, kalau seseorang berbohong, yang berarti antara yang dia rasionalisasikan  tidak sesuai dengan apa yang ada di perasaannya, maka yang di perasaan itulah yang nanti menang atau bakal mewujud dalam kenyataan.

Kekuatan perasaan 99 kali lebih powerful daripada kekuatan logika-pikiran, begitu menurut hasil riset. 

Itu berarti hati jauh lebih menentukan daripada pikiran. Oleh karena itu pula, hati lebih menentukan hitam-putihnya dunia dan kehidupan seseorang. Wallahua'lam.(*) 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved