Berita Bangli
Ada Sembilan Usulan Nama Baru Ibukota Kabupaten Bangli
Ada tiga nama yang diusulkan oleh tokoh Puri Agung Bangli yakni Arumpura, Prameswara Pura, dan Sukha Pura.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Noviana Windri
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Wacana mengenai sebutan baru atau nama baru untuk ibukota Bangli menjadi topik hangat akhir-akhir ini.
Tak sedikit tokoh masyarakat yang ikut mengusulkan nama baru untuk Kabupaten yang berlokasi di tengah pulau Bali ini.
Usulan nama Ibukota Bangli pertama kali muncul pada persembahyangan bersama di Pura Kehen pada Senin 26 April 2021 lalu.
Ada tiga nama yang diusulkan oleh tokoh Puri Agung Bangli yakni Arumpura, Prameswara Pura, dan Sukha Pura.
Dan kini usulan nama ibukota Bangli kembali bertambah enam nama, pasca pertemuan di Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bangli.
• Mulai Besok, 21 SMP di Bangli Kembali Gelar Pembelajaran Tatap Muka
• Pencanangan Tujuh Zona Hijau di Bangli Terkendala Vaksin
• Asik Nonton TV, Dapur Nengah Ronden Terbakar di Bangli Bali
Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra saat dikonfirmasi Minggu 2 Mei 2021 menjelaskan, pihkanya bersama Majlis Desa Adat (MDA) dalam hal ini hanya sebagai penampung aspirasi masyarakat untuk selanjutnya disampaikan kepada Bupati Bangli.
“Jadi bukan nanti Parisadha mengusulkan nama, jangan salah. Kita hanya menampung aspirasi agar tidak liar dan nanti kita serahkan kepada bapak bupati,” jelasnya.
Sukra juga mengaku jika pihaknya tidak tahu secara pasti dari mana wacana usulan penggantian nama ini muncul.
Pihaknya mengetahui adanya usulan nama ibukota Bangli saat diundang untuk muspa di Pura Kehen saat Purnama terkait dengan HUT Bangli.
“Dalam muspa tersebut ada terselip masukan dari keluarga Puri, tentang pemberian nama ibukota Kabupaten. Jadi ini bukan idenya Pak Bupati, ini aspirasi dari masyarakat dan Pak Bupati menampung. Dan yang pertama mengusulkan adalah dari keluarga Puri Agung Bangli,” sebut dia.
Hasil aspirasi masyarakat ini selanjutnya ditampung, untuk selanjutnya dibuatkan focus group discussion (FGD).
Mengenai kapan pelaksanaannya, Sukra mengatakan tidak ada kepastian waktu.
“Yang jelas pak bupati tidak memaksakan. Apakah bulan Mei, Agustus, tahun depan. Oleh karena itu saya juga berkeinginan memberikan kontribusi, agar tidak menjadi bola liar di masyarakat,” ucapnya.
Sebab itu pula, PHDI Bangli mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh pada hari Minggu 2 Mei.
Mulai dari tokoh agama yakni Jero Gede Batur, tokoh Puri Bangli, Bebanuan Kehen, Akademisi, dan sebagainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ketua-phdi-bangli-i-nyoman-sukra2.jpg)