Berita Tabanan
Ngaben Bikul Diiringi Bade Tumpang Pitu di Tabanan, Berharap Hama Tikus Terkendali
Di areal Pura Puseh Luhur Bedha, Tabanan berlangsung ritual Mreteka Merana atau yang lebih dikenal dengan ngaben bikul
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Artinya, ketika terjadi wabah serangan hama di wilayah subak Desa Adat Bedha yang tak terkendali (merana akeh), ritual ini akan dilaksanakan oleh krama.
Ritual ini diyakini sebagai upacara yang mampu mengendalikan serangan hama pada tanaman warga di subak.
"Ritual Ngaben Bikul (Tikus) ini tak dilaksanakan secara rutin, tapi dilaksanakan ketika ada merana yang tak bisa dikendalikan seperti misalnya saat ini serangan hama tikus yang tak terkendali. Dulu 10 tahun juga sempat dilaksanakan," jelas Surata saat dijumpai di Pura Puseh Luhur Bedha, Rabu.
Dia melanjutkan, prosesnya hampir sama dengan upacara ngaben pada manusia, hanya saja ini untuk "Jro Ketut" atau istilah memuliakan nama tikus dalam bahasa Bali.
Sehingga, jika pada manusia masuk Pitra Yadnya, untuk tikus masuk Butha Yadnya.
Baca juga: UPDATE: Hari Ini Jenazah Bharatu I Komang Wira Dikremasi, Upacara Ngaben Minggu 2 Mei 2021
"Prosesi ritual Ngaben Tikus ini diawali dengan prosesi ngeringkes. Setelah itu menuju pantai dan diaben di pantai. Abunya kemudian dibawa ke laut dengan harapan akan menjelma menjadi yang lebih baik atau tidak menjadi hama yang merusak tanaman. Jadi seolah-olah prosesnya hampir sama dengan ngaben manusia, tapi hanya sampai nganyut di pantai. Artinya, jika kita manusia bernama Pitra Yadnya yang sampai mamukur dan ngelinggihan di merajan. Sedangkan untuk ngaben bikul ini hanya sampai nganyut di pantai karena Butha Yadnya," jelasnya.
(Made Praseia Aryawan)
Kumpulan Artikel Tabanan