Breaking News:

Mengenal Perkawinan Menurut Hindu Bali, Minimal Harus Mabyakala: Mapadik, Ngerorod, hingga Nyentana

Mengenal Perkawinan Menurut Hindu Bali, Minimal Harus Mabyakala: Mapadik, Ngerorod, hingga Nyentana

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Widyartha Suryawan
Dok. pribadi Wirat Eka
Ilustrasi perkawinan di Bali - Mengenal Perkawinan Menurut Hindu Bali, Minimal Harus Mabyakala: Mapadik, Ngerorod, hingga Nyentana 

Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perkawinan atau di Bali disebut wiwaha adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri.

Tujuan dari perkawinan membentuk keluarga (rumah tangga) yang diharapkan penuh kebahagiaan, kekal dan berdasarkan ajaran agama.

Dengan demikian, perkawinan tidak sekadar hubungan jasmani antara sepasang suami-istri atau pria dan wanita saja.

Menurut hukum Hindu di Bali,  sebuah perkawinan ditandai dengan pelaksanaan ritual upacara wiwaha.

Dirangkum dari berbagai sumber, legalnya upacara wiwaha dalam Hindu di Bali paling tidak harus disaksikan oleh Tri Saksi.

Tri Saksi terdiri dari saksi terhadap manusia, saksi terhadap bhuta, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Adapun minimal batas sebuah ritual wiwaha adalah mabyakala.

Namun apabila memungkinkan, pernikahan haruslah sampai upacara mapejati.

Perkawinan juga untuk melanjutkan keturunan, khususnya melahirkan keturunan yang berkualitas yaitu anak yang suputra atau utama. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved