Lebaran 2021

Pesanan Hotel Nihil Saat Libur Lebaran 2021, Insan Pariwisata Ubud Bali Terpukul

hingga hari libur nasional yang telah dimulai per Rabu 12 Mei 2021 ini, belum ada satupun adanya wisatawan domestik yang memesan kamar hotel di Ubud.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Noviana Windri
Istimewa
Ilustrasi Hotel 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Libur Lebaran 2021 yang dinantikan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, sebagai salah satu bentuk perbaikan ekonomi kini telah pupus.

Pasalnya, dikarenakan adanya penyekatan pergerakan masyarakat antar provinsi, mengakibatkan hal tersebut juga berimbas pada calon wisatawan yang ingin berlibur ke Bali.

Kondisi itu menyebabkan, hingga hari libur nasional yang telah dimulai per Rabu 12 Mei 2021 ini, belum ada satupun adanya wisatawan domestik yang memesan kamar hotel di Ubud.

Ketua PHRI Gianyar, Adit Pande membenarkan hal tersebut.

"Hampir tidak ada yang booking ( hotel). Karena aktivitas keluar masuk suatu wilayah itu dibatasi untuk mengantisipasi membludaknya pemudik. Itu menyebabkan tidak ada yang berkunjung ke Bali," ujarnya.

Terpisah, Krisdayanti Lebaran di Jakarta, Raul Lemos di Timor Leste

H-1 Lebaran Idul Fitri, Pengamanan Pos Sekat di Pelabuhan Padangbai Bali Semakin Diperketat

Jelang Lebaran 2021, Kunjungan Tiara Dewata Meningkat, Tidak Berbanding Lurus dengan Volume Jual

Padahal, kata dia, momen liburan lebaran merupakan momen yang selalu dinanti insan pariwisata di Bali.

Sebab, berdasarkan catatan PHRI Gianyar selama ini, kunjungan wisatawan domestik dalam momen ini, relatif berdampak signifikan untuk okupansi hotel.

Meskipun tidak sebanyak di Bali selatan, seperti Jimbaran dan Kuta. 

"Padahal kita sangat menantikan momen ini. Sebab, momen liburan di Indonesia kan tidak banyak, hanya saat libur sekolah dan hari keagamaan. Seperti libur Lebaran, sebelum pandemi, ketika Lebaran, di Ubud yang paling besar merasakan dampaknya adalah restoran, hanya 20-30 persen dari mereka yang menginap di hotel. Sebab untuk domestik, mayoritas mereka tinggal di daerah selatan. Tapi liburan dan makannya mereka di Ubud, seperti monkey forest, pasar tradisional dan makan siang di restoran," ujarnya.

Terkait pengetatan aktivitas yang menyebabkan sepinya kunjungan wisatawan, apakah PHRI Gianyar hanya diam saja? 

"Untuk saat ini, tidak banyak yang bisa kami lakukan, karena memang ini sudah menjadi perintah presiden, yang harus dipatuhi oleh semua masyarakat, bahwa untuk liburan ini tidak diperkenankan melakukan traveling. Karena ditakutkan, jika traveling terlalu bablas, nanti takutnya seperti di India, itu yang tidak kita inginkan," ujar Adit.

Berarti PHRI sangat mendukung upaya pemerintah walaupun dampaknya sangat berpengaruh terhadap ekonomi?

"Kami sebenarnya ingin dibuka untuk traveling. Karena seperti diketahui sudah hampir 1,3 tahun situasi seperti ini. Karena itu, kami ingin sekali dibuka. Tetapi balik lagi, karena ini sudah menjadi keputusan, yang tentunya kami tidak bisa melanggar, mau tidak mau kami harus mengikuti," tandasnya.

Namun Adit berharap, pemerintah memberikan solusi lain untuk menghidupi sektor perekonomian pariwisata.

Misalnya, mengganti libur Idul Fitri dengan libur jalan-jalan.

70 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, Selamat Lebaran 2021

Jelang Lebaran, BRI Siapkan Kas Rp 1,5 Triliun dan Beri Layanan Terbatas 12-15 Mei 2021

Sebab dengan libur jalan-jalan, pergerakan masyarakat terbatas dan mudah untuk menerapkan protokol kesehatan.

Dengan adanya libur demikian, selain akan menggerakkan sektor ekonomi, masyarakat pun memiliki kesempatan untuk menghilangkan kejenuhannya. 

"Alangkah baiknya, kalau diberikan pengganti hari libur Idul Fitri untuk liburan jalan-jalan, kemungkinan lebih bagus. Sebab pergerakan masyararakat terbatas, sehingga penerapan protokol kesehatan bisa dilakukan," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved