Berita Bali
Yayasan Puri Kauhan Ubud Gelar Workshop Sastra Bali Modern & Klasik, Peserta Terbanyak dalam Sejarah
Yayasan Puri Kauhan Ubud Gelar Workshop Sastra Bali Modern & Klasik, Peserta Terbanyak dalam Sejarah
Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
Bahasa Bali yang digunakan pun tak harus menggunakan bahasa daratan, namun bisa juga mengangkat dialek-dialek masing-masing daerah semisal dialek Buleleng, Nusa Penida, bahkan bahasa Bali yang dipergunakan di luar Bali semisal Lampung dan Lombok.
Baca juga: 55 Pegiat Sastra Bali Modern Peringati HUT ke-75 RI dengan Membaca Cerpen & Puisi Bali Online
Darma juga mengatakan pentingnya imajinasi dalam membuat puisi maupun cerpen, semakin masuk ke dalam imajinasi tersebut, maka karya yang dihasilkan akan semakin hidup dan berjiwa.
Terkait dengan penulisan Geguritan, IDG Windu Sancaya mengatakan, dalam penulisan peserta bisa memilih jenis pupuh sesuai dengan situasi.
“Misal saat jengah bisa menggunakan Pupuh Durma, sedih bisa menggunakan Ginada dan kalau kasmaran bisa menggunakan Semarandana,” katanya.
Penulisannya pun bisa secara liris maupun narasi, baik mengungkapkan kisah tentang seseorang yang mengalami dampak pandemi maupun menguraikan apa itu pandemi.
“Saya harap, apa yang ditulis mampu mempengaruhi sikap pandangan pembacanya sehingga memiliki pengetahuan lebih luas serta sikap lebih positif terhadap pandemi ini,” katanya.
Kepengarangan Kidung Mandek
Sementara terkait Kidung, I Wayan Suteja mengatakan selama ini banyak pandangan bahwa kidung hanya terbatas pada lagu kerohaian saja.
Dimana yang dinyanyikan tersebut dipetik hanya beberapa bait saja seperti Wargasari.
Hal tersebutlah yang membuat kepengarangan kidung di Bali mandek.
“Pada jaman Kerajaan Gelgel kidung sangat disukai meskipun tidak banyak yang mengarang. Saat itu ada Dang Hyang Nirarta yang banyak melahirkan kidung seperti Kidung Rasmi Sancaya, Kidung Dharma Pitutur,” katanya.
Setelah kemerdekaan RI, ada seorang pengarang yang menulis kidung yakni Ida Pedanda Made Sidemen yang menulis Kidung Tantri Pisacaharana, maupun Kidung Rangsang Pelok.
“Belakangan setelah itu hampir tidak ada yang menulis kidung lagi, sehingga dengan adanya acara ini akan menyemarakkan kembali kejayaan kidung tersebut,” katanya.
Baca juga: Sastra Saraswati Sewana, Jaring Karya Sastra Bali Bahas Gering Agung
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, AAGN Ari Dwipayana mengatakan acara yang digelar ini merupakan bentuk pemujaan kepada Ida Sang Hyang Aji Saraswati melalui sastra.
Adanya pandemi Covid-19 ini merupakan momen penting bagi masyarakat untuk melakukan mulat sarira melalui penulisan karya sastra.
“Semua mengalami peristiwa ini termasuk di Bali juga mengalaminya. Sehingga dengan adanya peristiwa ini akan mampu melahirkan banyak karya sastra dalam bentuk klasik maupun modern,” kata Koordinator Staf Khusus Presiden ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/workshop-menulis-sastra-bali-digelar-yayasan-puri-kauhan-ubud.jpg)