Breaking News:

Berita Bali

Yayasan Puri Kauhan Ubud Gelar Workshop Sastra Bali Modern & Klasik, Peserta Terbanyak dalam Sejarah

Yayasan Puri Kauhan Ubud Gelar Workshop Sastra Bali Modern & Klasik, Peserta Terbanyak dalam Sejarah

Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
SC Zoom Meeting/istimewa
Yayasan Puri Kauhan Ubud, Gianyar gelar workshop sastra Bali selama tiga hari, Jumat – Minggu, 4 – 6 Juni 2021 dengan materi menulis cerpen, puisi, kakawin, geguritan, kidung serta satua Bali. 

Ia menambahkan, dengan ikut menulis ini, berarti ikut juga mencatat satu peristiwa besar yang baru pertama dialami oleh umat sedunia yakni pandemi Covid-19.

Penulis bisa mengambil banyak sudut pandang dari pandemi untuk dituliskan baik dari sisi ekonomi, politik, sosial, budaya dan sudut pandang lainnya.

Perlu Mendobrak
Pembicara lain, IGA Darma Putra mengatakan dalam menulis hal yang perlu adalah ide yang bisa didapat dari membaca, jalan-jalan, bahkan hingga dari kamar mandi.

“Yang perlu diperhatikan dalam menuliskan ide tersebut yakni kata. Bagaimana merangkai kata, juga memperhatikan ejaan yang digunakan,” katanya.

Bahkan Darma Putra mengajak peserta untuk mendobrak apa yang lumrahnya ada hari ini.

Bahasa Bali yang digunakan pun tak harus menggunakan bahasa daratan, namun bisa juga mengangkat dialek-dialek masing-masing daerah semisal dialek Buleleng, Nusa Penida, bahkan bahasa Bali yang dipergunakan di luar Bali semisal Lampung dan Lombok.

Baca juga: 55 Pegiat Sastra Bali Modern Peringati HUT ke-75 RI dengan Membaca Cerpen & Puisi Bali Online

Darma juga mengatakan pentingnya imajinasi dalam membuat puisi maupun cerpen, semakin masuk ke dalam imajinasi tersebut, maka karya yang dihasilkan akan semakin hidup dan berjiwa.

Terkait dengan penulisan Geguritan, IDG Windu Sancaya mengatakan, dalam penulisan peserta bisa memilih jenis pupuh sesuai dengan situasi.

“Misal saat jengah bisa menggunakan Pupuh Durma, sedih bisa menggunakan Ginada dan kalau kasmaran bisa menggunakan Semarandana,” katanya.

Penulisannya pun bisa secara liris maupun narasi, baik mengungkapkan kisah tentang seseorang yang mengalami dampak pandemi maupun menguraikan apa itu pandemi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved